MALANG POST – Suasana Ramadan di Kota Batu mulai terasa semarak. Pasar takjil bermunculan di berbagai sudut kota, menghadirkan beragam menu berbuka yang menggoda. Di tengah ramainya aktivitas warga berburu takjil, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu bergerak memastikan makanan yang beredar tetap aman dikonsumsi.
Dinkes memetakan sejumlah titik pasar takjil dan menerjunkan petugas untuk mengambil sampel aneka menu yang dijual pedagang. Langkah ini menjadi upaya preventif pemerintah daerah untuk menekan risiko keracunan pangan selama Ramadan.
Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Muda Dinkes Kota Batu, Esty Setya Windari menjelaskan, pengawasan dibagi berdasarkan wilayah kerja lima puskesmas yang turun langsung ke lapangan.
“Misalnya di wilayah kerja Puskesmas Batu, pengawasan difokuskan di Desa Pesanggrahan, tepatnya di Jalan Samadi dan kawasan depan Hotel Mutiara Baru. Puskesmas Beji menyasar area sekitar Pusdik Pendem yang setiap tahun menjadi salah satu pusat keramaian pasar takjil,” urainya, Kamis (26/2/2026).

PASAR TAKJIL: Bulan Ramadan banyak pasar takjil di sudut-sudut Kota Batu, guna memastikan makanan yang dijual aman, Dinkes Kota Batu melakukan pengecekan sampel makanan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sementara Puskesmas Bumiaji memantau kawasan depan Hotel Purnama. Wilayah Junrejo menjadi titik pantauan paling banyak, meliputi Balai Desa Junrejo, depan Indomaret Junrejo, depan SDN Junrejo 1, hingga Desa Tlekung.
Tim Puskesmas Dadaprejo juga menyisir kawasan perempatan sebelum kantor kelurahan. Sedangkan Puskesmas Sisir memfokuskan pengawasan di pusat kuliner populer seperti kawasan Stadion Gelora Brantas, Jalan Kali Putih, dan Jalan Diran.
“Setiap tahun kami lakukan pemeriksaan untuk pengawasan keamanan pangan,” tambah Esty.
Pengambilan sampel dilakukan selama dua hari, yakni 24–25 Februari. Petugas mengambil berbagai jenis makanan dan minuman takjil untuk diuji secara klinis. Pemeriksaan tidak hanya secara visual, tetapi juga menggunakan alat uji cepat (rapid test kit) guna mendeteksi kandungan kimia berbahaya.
Ada empat parameter kimia yang menjadi fokus pengawasan, yakni metanil yellow, boraks, formalin, dan rhodamin B. Zat-zat tersebut kerap disalahgunakan untuk mempercantik tampilan makanan atau memperpanjang masa simpan secara ilegal.

Selain itu, petugas juga melakukan pemeriksaan bakteriologis untuk mendeteksi keberadaan bakteri Escherichia coli (Ecoli). Keberadaan bakteri ini biasanya menjadi indikator kebersihan air dan higienitas proses pengolahan makanan.
Esty menegaskan, mekanisme penindakan dilakukan secara bertahap. Jika ditemukan indikasi bahan berbahaya, petugas tidak langsung melakukan penyitaan, melainkan melakukan uji ulang terlebih dahulu.
Apabila hasilnya masih menunjukkan ketidaksesuaian, pemeriksaan akan dilanjutkan ke tahap uji penegakan di laboratorium. Pendekatan ini dilakukan agar penindakan lebih akurat sekaligus tetap mengedepankan pembinaan kepada pedagang.
“Pengawasan rutin ini juga menjadi sarana edukasi bagi pelaku usaha agar lebih selektif memilih bahan baku serta menjaga kebersihan proses produksi. Harapannya, masyarakat bisa menikmati takjil dengan rasa aman selama Ramadan,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




