MALANG POST – Dinas Kesehatan Kota Malang, sudah melakukan uji sampling terhadap takjil Ramadan, sejak 23 Februari 2026 kemarin. Uji sampling yang dilakukan di 16 Puskesmas tersebut, dilakukan untuk pengambilan sampel dan pengujian makanan takjil, guna memastikan keamanan makanan yang dijual.
Penegasan itu disampaikan Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Rabu (25/2/2026).
“Pengujian sudah dilakukan serempak di 16 wilayah Puskesmas, dengan melibatkan tenaga nutrisionis, sanitarian dan analis laboratorium.”
“Pengujian itu mencakup pemeriksaan bahan tambahan pangan, seperti pemanis buatan, pewarna, pengeras dan pengawet makanan,” jelasnya.
Diakuinya, dari hasil pengujian, ada sejumlah sampel tidak memenuhi syarat, karena ditemukan pewarna rhodamin dan bahan pengeras pada produk pentol dan tahu.
Karena itulah, koordinasi dengan perangkat wilayah terus diperkuat, untuk memantau pedagang yang sebelumnya terindikasi menggunakan bahan terlarang.
Ketua Paguyuban CFD Wisata Belanja Ijen, Iwan Setiawan, mengaku paguyuban belum punya alat ukur, untuk menentukan apakah makanan dan minuman yang dijual memenuhi unsur kesehatan.
Walaupun begitu, pihaknya selalu meminta calon anggota paguyuban, untuk membuat surat pernyataan di atas materai, yang menyatakan sanggup menjual dagangan yang higienis.
“Yang bisa kami lakukan saat ini adalah menjaga kebersihan. Kami sudah menyediakan air bersih di 67 titik dan meminta pedagang mengumpulkan sampah dalam kantong plastik, yang diikat rapi di depan lapak.”
“Tantangan kebersihan justru muncul dari pengunjung, yang membuang sampah sembarangan di sepanjang Jalan Ijen,” tegasnya.
Sementara itu, Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Malang, Tapriadi SKM., M.Pd., menyampaikan, masyarakat harus lebih waspada pada bahaya tersembunyi dalam jajanan takjil, yang tidak hanya terlihat dari tampilan dan rasa. Karena potensi bahaya bisa muncul dari berbagai aspek.
“Pemilihan bahan baku yang kurang baik, seperti tepung atau gula merah yang sudah terkontaminasi mikrobiologis, karena cara penyimpanan dan pengemasan yang tidak tepat,” sebutnya.
Selain itu, Tapriadi juga menyoroti penggunaan bahan-bahan yang berpotensi membahayakan kesehatan. Seperti bahan pewarna, penguat rasa dan bubuk pedas. (Anisa Afisunani/Ra Indrata)




