MALANG POST – Lima kesenian tradisional khas Kota Batu kini berada di titik rawan. Aktivitas kian menurun, pelaku menyusut dan regenerasi tersendat. Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu mencatat Wayang Orang, Ludruk, Jaran Dowo, Gumbingan dan Tari Sembromo sebagai seni tradisi yang membutuhkan perhatian serius agar tak benar-benar hilang dari ruang publik.
Penurunan jumlah pelaku seni menjadi persoalan paling nyata. Banyak seniman lama memasuki usia tidak produktif, sementara generasi penerus belum muncul dalam jumlah memadai. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) membuat kelompok seni kesulitan mempertahankan aktivitas rutin, apalagi menyiapkan produksi pertunjukan.
Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto menyebut kondisi paling memprihatinkan terjadi pada Wayang Orang. Saat ini hanya tersisa satu kelompok aktif, yakni Sasono Kridho Budoyo di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo. Namun kelompok tersebut kini berada dalam kondisi pasif karena kekurangan pemain.
“Banyak anggota sudah berkeluarga dan belum ada penerus. Regenerasinya sangat minim,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Kelompok tersebut sebenarnya sempat ditawari tampil dalam agenda rutin pentas Padang Bulan di kawasan Arjuna Wiwaha. Sayangnya, keterbatasan jumlah pemain dan kesiapan teknis membuat mereka belum mampu naik pentas.
Situasi serupa terjadi pada kesenian Ludruk. Meski nyaris redup, satu kelompok masih bertahan, yakni Ludruk SAS. Disparta berupaya menjaga eksistensinya dengan mendorong keterlibatan dalam berbagai agenda pertunjukan daerah.
“Masih ada satu kelompok dengan anggota relatif muda. Kami arahkan tampil di pentas Padang Bulan agar tetap hidup,” jelas Onny.

GUMBINGAN: Salah satu kesenian khas Kota Batu, Gumbingan yang hampir mengalami kepunahan, namun kini perlahan mulai menemukan eksistensinya lagi. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sementara itu, kesenian Jaran Dowo, Gumbingan dan Tari Sembromo sempat berada pada fase hampir tidak dikenal publik. Ketiganya kini mulai dihidupkan kembali melalui pelatihan dan pembinaan berkala.
Pada tahun lalu, Disparta menggelar pelatihan Ludruk dan Tari Sembromo. Hasilnya mulai terlihat. Tari Sembromo sempat ditampilkan secara kolosal oleh sekitar 50 penari dalam pentas Padang Bulan setelah menjalani pelatihan intensif.
Onny menilai persoalan utama meredupnya seni tradisi adalah krisis regenerasi dan menurunnya minat generasi muda. Perkembangan teknologi dan derasnya budaya populer ikut memengaruhi pergeseran preferensi hiburan. “Generasi sekarang cenderung tertarik pada budaya modern. Jaran Dowo bahkan sempat tidak dikenal publik beberapa tahun terakhir,” ungkapnya.
Meski demikian, tanda kebangkitan mulai muncul. Jaran Dowo kembali dikenal setelah ditampilkan kelompok seni asal Pesanggrahan dalam Batu Art Carnival. Kesenian tersebut juga dipromosikan melalui Dhoho Night Carnival di Kota Kediri. Jaran Dowo memiliki ciri khas bentuk kuda memanjang, berbeda dengan jaranan pada umumnya, sehingga memiliki daya tarik visual kuat.
Kesenian Gumbingan pun mengalami dinamika serupa. Sempat sepi peminat, kesenian ini mulai bangkit setelah terbentuk komunitas Gumbingnesia. Festival Gumbingnesia yang digelar menjadi ruang ekspresi baru sekaligus wadah regenerasi bagi pelaku seni.
Disparta menegaskan upaya pelestarian dilakukan secara berkelanjutan. Strategi yang ditempuh meliputi pelatihan rutin, pementasan berkala melalui Padang Bulan, pendampingan sanggar, pencarian generasi penerus, hingga pendokumentasian sejarah kesenian sebagai bahan pengajuan Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
“Tahun lalu kami intensifkan pelatihan Ludruk dan Tari Sembromo dengan melibatkan praktisi dan akademisi,” kata Onny.
Memasuki 2026, fokus pembinaan diarahkan pada penguatan Tari Sembromo yang dinilai memiliki kompleksitas teknis cukup tinggi. Mulai dari ketukan nada, gerak, busana, rias, hingga pakem pertunjukan menjadi materi utama pelatihan.
Pelestarian juga diperluas ke lingkungan pendidikan. Disparta menggandeng sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler seni tradisi, khususnya karawitan. Pemerintah daerah juga menyediakan panggung pertunjukan dalam berbagai event, membentuk duta seni, serta menyalurkan hibah pengembangan kebudayaan kepada lima sanggar seni.
“Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan kesenian lokal agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




