MALANG POST – Bayangkan jika perpustakaan perguruan tinggi tidak lagi menjadi “pembeli setia” industri penerbitan setiap tahun. Selama puluhan tahun, perpustakaan kampus diposisikan sebagai unit pengadaan: membeli buku-buku mahal, cepat usang, dan tidak selalu relevan dengan kebutuhan riset maupun pembelajaran.
Namun, dunia akademik telah berubah drastis, memunculkan pertanyaan penting: mungkinkah perpustakaan kampus berhenti hanya membeli, lalu bertransformasi menjadi produsen pengetahuan yang berswasembada buku?
KRISIS MODEL PENGADAAN BUKU KONVENSIONAL
Model pengadaan tradisional membuat perpustakaan cenderung reaktif. Koleksi dibeli berdasarkan daftar penerbit dan anggaran tahunan, sementara kebutuhan ilmu pengetahuan bergerak jauh lebih cepat. Akibatnya, perpustakaan sering tertinggal dari dinamika riset, perkembangan kurikulum, serta kebutuhan mahasiswa.
Ketergantungan pada penerbit komersial juga memunculkan masalah serius: akses yang mahal. Banyak buku akademik berkualitas dijual dengan harga tinggi sehingga membatasi mahasiswa dan peneliti. Situasi ini menciptakan kesenjangan pengetahuan, bertentangan dengan misi perguruan tinggi sebagai lembaga demokratisasi ilmu.
KARYA AKADEMIK KAMPUS: BANYAK, Tetapi TERABAIKAN
Ironisnya, perguruan tinggi setiap tahun menghasilkan ribuan karya ilmiah—skripsi, tesis, disertasi, modul pembelajaran, laporan penelitian, hingga artikel jurnal. Namun, sebagian besar hanya “menumpuk” di repositori digital tanpa proses kurasi, penyuntingan, dan penerbitan yang memadai.
Padahal, jika dikelola secara terstruktur, karya internal kampus dapat menjadi sumber utama koleksi perpustakaan. Naskah dosen dan mahasiswa dapat dikembangkan menjadi buku ajar, buku referensi, atau monograf riset yang lebih siap digunakan publik.
GELOMBANG OPEN ACCESS dan KESEMPATAN BARU
Gerakan open access memberi peluang besar bagi perpustakaan untuk mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak hanya menjadi penyedia akses, tetapi juga penggerak penerbitan buku akademik yang dapat dibaca bebas tanpa hambatan biaya.
Dalam konteks perguruan tinggi negeri, prinsip ini sejalan dengan gagasan keadilan pengetahuan: hasil riset yang didukung dana publik seharusnya dapat diakses kembali oleh masyarakat luas tanpa harus “dibeli ulang” melalui harga buku yang tinggi.
PERPUSTAKAAN SEBAGAI PENERBIT: TREN GLOBAL yang NYATA
Di berbagai universitas dunia, perpustakaan telah berubah menjadi pusat penerbitan akademik. Model ini memperlihatkan bahwa perpustakaan bukan sekadar pengelola koleksi, tetapi mampu menjadi penerbit yang memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan.
Perpustakaan memiliki kekuatan yang khas: pengelolaan metadata, preservasi digital, serta distribusi akses. Jika dipadukan dengan sistem editorial dan kontrol mutu, perpustakaan dapat menjalankan fungsi penerbitan secara kredibel.
Selain itu, beberapa inovasi pembiayaan seperti Subscribe to Open (S2O) menunjukkan bahwa penerbitan terbuka dapat didukung melalui kontribusi kolektif, tanpa membebani penulis maupun pembaca.
KEUNTUNGAN STRATEGIS: HEMAT, RELEVAN dan BERDAMPAK
Model swasembada buku melalui produksi koleksi internal memberi sejumlah keuntungan nyata, yaitu:
1.Efisiensi anggaran: sebagian dana pengadaan buku dapat dialihkan untuk produksi buku kampus sendiri. 2. Konten lebih relevan: karya dosen dan mahasiswa lebih dekat dengan kebutuhan kurikulum dan riset kampus. 3. Akses lebih luas: buku dapat dipublikasikan berbasis open access, meningkatkan visibilitas institusi. 4. Budaya produktif: sivitas akademika terdorong menerbitkan karya karena ada jalur penerbitan yang jelas.
Perpustakaan tidak lagi sekadar menunggu pasar menerbitkan buku yang dibutuhkan kampus, tetapi proaktif mengidentifikasi, mengkurasi, lalu menerbitkan karya terbaik dari dalam institusi.
TANTANGAN: MUTU ILMIAH dan KEBERLANJUTAN
Meski menjanjikan, swasembada buku bukan tanpa hambatan. Tantangan utama yang perlu diantisipasi meliputi:
1.Kesiapan naskah: banyak karya masih membutuhkan revisi substansial dan penyuntingan bahasa. 2. Sistem peer review: buku harus melalui penilaian akademik agar kredibel. 3. Pendanaan berkelanjutan: penerbitan tetap memerlukan biaya desain, tata letak, ISBN, dan platform digital. 3. Perubahan budaya: paradigma bahwa perpustakaan adalah pusat produksi pengetahuan harus dibangun perlahan.
STRATEGI PRAKTIS: UNIT EDITORIAL dan KOLABORASI
Salah satu langkah paling realistis adalah mengintegrasikan layanan editorial dan penerbitan ke dalam struktur perpustakaan. Pustakawan dapat mengambil peran baru sebagai editor, pengelola metadata, hingga penghubung penerbitan.
Perpustakaan juga perlu menyiapkan infrastruktur teknologi: sistem manajemen naskah, repositori institusional terintegrasi, dan platform penerbitan digital. Kolaborasi dengan fakultas, unit penelitian, hingga penerbit eksternal dapat memperkuat kualitas sekaligus mempercepat transisi.
HARAPAN dan ARAH MASA DEPAN
Perpustakaan perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk menjadi pionir swasembada buku dengan mengubah perannya dari konsumen pasif menjadi produsen aktif pengetahuan.
Melalui penerbitan internal, penguatan open access, sistem editorial yang kredibel, serta kolaborasi lintas unit, perpustakaan dapat memproduksi buku akademik yang relevan, bermutu, dan mudah diakses.
Transformasi ini tidak hanya memperkuat efisiensi anggaran, tetapi juga memperluas dampak riset kampus, meningkatkan reputasi institusi, dan mendorong budaya akademik yang lebih produktif.
Pada akhirnya, perpustakaan berswasembada buku bukan sekadar ide idealis, melainkan arah strategis masa depan pendidikan tinggi—sejalan dengan SDGs, terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui pemerataan akses pengetahuan. (***)
Penulis: Teguh Yudi Cahyono, Perpustakaan UM




