RAMADAN adalah bulan tarbiyah. Ia bukan sekadar momentum memperbanyak ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran untuk memperhalus adab, menertibkan jiwa, dan mendewasakan cara kita mendekat kepada Allah SWT.
Dalam suasana Ramadan, semangat ke masjid meningkat. Saf menjadi lebih penuh, langkah kaki terasa lebih ringan, dan hati lebih mudah terpanggil. Namun di tengah semangat itu, ada satu adab penting yang sering luput dari perhatian: adab menghadiri shalat Jumat, khususnya saat khotbah sedang berlangsung.
Khotbah Jumat: Rukun Wajib yang Menentukan Sahnya Salat Jumat
Khotbah Jumat bukan sekadar pengantar sebelum salat. Ia adalah rukun wajib dalam pelaksanaan shalat Jumat. Artinya, tanpa khotbah, shalat Jumat tidak sah menurut jumhur ulama. Para ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali secara tegas menempatkan khotbah sebagai bagian esensial yang tidak terpisahkan dari ibadah Jumat.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.”
(QS. Al-Jumu’ah: 9)
Para mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “mengingat Allah” dalam ayat ini mencakup khotbah dan salat Jumat. Khotbah, dalam struktur ibadah Jumat, bahkan menggantikan dua rakaat shalat zuhur. Karena itu, mendengarkan khotbah bukan hanya adab yang dianjurkan, tetapi bagian dari menjaga kesempurnaan pelaksanaan kewajiban Jumat itu sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika engkau berkata kepada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah’, sementara imam sedang berkhotbah, maka sungguh engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.”
(HR. Bukhari no. 934, Muslim no. 851)
Hadits ini memberikan pelajaran mendalam. Bahkan ucapan yang benar sekalipun, jika diucapkan saat khotbah berlangsung, dapat menghilangkan nilai ibadah Jumat. Ini menunjukkan bahwa mendengar khotbah dengan penuh perhatian adalah bagian dari adab yang wajib dijaga.
Ramadan, sebagai bulan pendidikan, seharusnya semakin memperkuat kesadaran ini.
Ketika Sunnah Bertemu dengan yang Lebih Utama
Sering kita jumpai jemaah yang datang terlambat, lalu segera melaksanakan salat sunnah tahiyatul masjid saat khatib sudah mulai berkhotbah. Secara fiqh, Rasulullah SAW memang pernah memerintahkan seorang sahabat, Sulaik al-Ghatafani, untuk melaksanakan dua rakaat ringan.
Namun, para ulama menekankan bahwa pelaksanaannya harus ringan, tidak mengganggu, dan tidak mengurangi perhatian terhadap khotbah.
Di sinilah pentingnya memahami kaidah fiqh yang agung:
“Menolak mudarat didahulukan daripada mengambil manfaat.”
(Dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih)
Mendengarkan khotbah adalah kewajiban. Salat sunnah adalah anjuran. Ramadan mengajarkan kita bukan hanya untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga untuk menempatkan setiap ibadah pada proporsinya yang tepat.
Menjaga Ketertiban adalah Bagian dari Ibadah
Fenomena lain yang sering terjadi adalah jemaah yang datang terlambat lalu melangkahi bahu jemaah lain demi mencari saf depan. Tindakan ini tidak hanya mengganggu kekhusyukan, tetapi juga telah ditegur secara langsung oleh Rasulullah SAW:
“Duduklah! Engkau telah mengganggu.”
(HR. Abu Daud no. 1118)
Pesannya sederhana namun sangat mendalam. Ibadah bukan hanya tentang posisi kita di saf, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga ketenangan dan kenyamanan orang lain.
Ramadan adalah bulan empati. Ia mengajarkan kita untuk tidak hanya fokus pada kesalehan pribadi, tetapi juga menjaga adab sosial sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah.
Ramadan adalah Latihan Disiplin Spiritual
Saat imam naik mimbar dan khotbah dimulai, seluruh perhatian seharusnya tertuju pada pesan yang disampaikan. Bukan lagi waktu untuk shalat sunnah, berbicara, atau melakukan aktivitas lain yang mengalihkan fokus.
Justru di sinilah esensi tarbiyah Ramadan: melatih kesiapan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap waktu ibadah.
Datang lebih awal bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi bagian dari adab seorang mukmin yang menghargai undangan Rabb-nya.
Memperindah Ibadah dengan Adab
Ramadan bukan hanya tentang banyaknya ibadah, tetapi tentang kualitasnya. Dan kualitas ibadah sangat ditentukan oleh adab.
Mari jadikan Jumat di bulan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki bukan hanya kehadiran fisik kita di masjid, tetapi juga kehadiran hati dan adab kita.
Datang lebih awal. Duduk dengan tenang. Dengarkan dengan penuh perhatian.
Karena terkadang, bukan banyaknya amalan yang mengangkat derajat kita, tetapi ketepatan adab dalam menjaganya.
Semoga Allah SWT menerima ibadah Jumat kita dan menjadikan Ramadan ini sebagai momentum peningkatan kualitas diri, disiplin spiritual, dan kedewasaan iman. (***)




