MALANG POST – Tim mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) tampil gemilang pada ajang Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Kemenangan itu diperoleh dari hasil karya mereka menciptakan solusi nyata untuk krisis pangan dan energi melalui rancangan MERASA Tower.
Tim Warock dari UM ini berhasil meraih Juara Umum dengan karya yang menggabungkan inovasi struktur dan ekosistem hidup terpadu.
Di inti rancangan, MERASA Tower menghadirkan konsep agro-residential yang mengintegrasikan pertanian vertikal dengan sistem kemandirian energi.
Humas UM menyampaikan Kamis (19/2/2026) bersama Ketua Tim Warock, gedung dirancang bukan sekadar hunian tetapi sebagai ekosistem berkelanjutan yang mampu menopang ketersediaan pangan lokal dan kebutuhan energi secara mandiri.
Secara teknis, inovasi unggulan mencakup penerapan sistem struktur baja SRPMK berprinsip Strong Column–Weak Beam dan capacity design untuk kontrol mekanisme kegagalan, serta penggunaan material baja dengan sambungan yang dioptimalkan.
Tim juga menerapkan strategi prefabrikasi dan modul perakitan yang mempercepat waktu konstruksi tanpa mengorbankan keselamatan. Uji respons seismik menggunakan NLTHA serta evaluasi pasca-gempa sesuai ATC dan FEMA menjadi bukti performa tahan gempa rancangan tersebut.
“Kami mendesain MERASA Tower untuk menjawab masalah nyata—bukan ide abstrak. Pertanian vertikal dan kemandirian energi adalah inti solusi kami,” kata Hangen selaku ketua tim.
Selain itu, dosen pendamping program memberikan komentar, “Proyek ini tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan tim dalam menyelaraskan kebutuhan lokal dengan praktik desain yang berkelanjutan.”
“Hasilnya menunjukkan bahwa konsep agro-vertikal dapat diwujudkan secara aman, efisien, dan berkelanjutan”, ujar Dosen Pembimbing Teknologi Struktur, UM.
Anggota tim lainnya menambahkan, “Kami melihat MERASA Tower sebagai laboratorium hidup untuk inovasi arsitektur.”
“Modularitas dan prefabrikasi bukan sekadar tren, tetapi strategi kunci untuk membangun masa depan yang lebih tahan bencana dan terdesentralisasi sumber energinya”, ujar anggota Tim Warock.
Pernyataan tegas itu menggarisbawahi tujuan sosial-teknis proyek: mitigasi krisis pangan dan energi melalui arsitektur adaptif.
Kemenangan Warock di KBGI XVI yang berlangsung pada 13–17 November 2025 ini, diharapkan mendorong adopsi arsitektur berkelanjutan, pertanian vertikal dan pendekatan prefabrikasi modular dalam pendidikan teknik dan praktik desain nasional.
Karya tersebut selaras dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi pertanian vertikal mendukung SDGs 2: Zero Hunger melalui penguatan ketahanan pangan. Sistem energi mandiri sejalan dengan SDGs 7: Affordable and Clean Energy.
Konsep bangunan tahan gempa dan modular memperkuat SDGs 9: Industry, Innovation, and Infrastructure sekaligus SDGs 11: Sustainable Cities and Communities. Efisiensi material dan pendekatan konstruksi cepat juga berkontribusi pada SDGs 12: Responsible Consumption and Production. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




