MALANG POST – Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi yang menuntut pelaku usaha kecil beradaptasi cepat, UMKM desa sering tertinggal dalam akses pasar dan penguasaan teknologi.
Menjawab isu tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmen mendorong kemandirian ekonomi desa melalui pelatihan penjualan produk UMKM berbasis digital.
Mereka tidak hanya menyosialisasikan digital marketing, tetapi juga merancang skema pendampingan jangka panjang hingga mengusulkan pembentukan Klinik UMKM sebagai ruang konsultasi terbuka bagi warga Desa Beji, Kota Batu.
Program ini lahir dari potensi lokal yang kuat. Desa Beji memiliki beragam produk unggulan berbasis olahan tempe, seperti tempe mentah, abon tempe, keripik tempe, dan batik tempe.
Selain itu, ada produk jamu, mie tempe, dan susu kedelai yang menjadi motor perekonomian warga. Namun, sebagian besar pelaku usaha masih memasarkan produk secara konvensional dan terbatas pada jaringan pribadi.
Ketua Tim KKN Desa Beji, Muhammad Fachri (mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2023), menegaskan bahwa penguatan digital branding menjadi fokus utama program karena dinilai mampu memperluas akses pasar.
“Potensi UMKM di Desa Beji sebenarnya besar, tetapi pemasarannya masih terbatas. Karena itu kami fokus membangun fondasi dasar, mulai dari branding hingga pendampingan penggunaan media sosial,” ujarnya pada 17 Februari lalu.
Program kerja dimulai dengan sosialisasi digital marketing yang melibatkan belasan pelaku UMKM. Instagram dipublikasikan sebagai media promosi yang mudah diakses dengan jangkauan pasar luas. Sebelumnya, mahasiswa mendampingi warga melalui penguatan visual melalui pelatihan foto produk.
Pelatihan mencakup teknik pengambilan gambar, pencahayaan sederhana, hingga pembuatan konten video promosi. Warga diajak memahami bahwa tampilan visual adalah kunci membangun kepercayaan konsumen di ruang digital.
Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari diskusi kelompok hingga kunjungan langsung ke lokasi usaha.
Hingga kini, enam UMKM aktif terlibat, antara lain produsen batik tempe, keripik tempe, tempe mentah, mie tempe, dan susu kedelai. Meski program masih berjalan, perubahan mulai terlihat dari meningkatnya antusiasme serta kesadaran pelaku usaha untuk membangun branding yang lebih profesional.
Sebagai langkah keberlanjutan, mahasiswa merancang pembentukan Klinik UMKM Desa Beji. Klinik ini dirancang sebagai ruang konsultasi pemasaran, branding, dan pengembangan usaha yang dapat diakses warga meski masa KKN telah berakhir.
“Harapan kami, UMKM Desa Beji bisa naik kelas—baik dari sisi promosi, kualitas, maupun branding. Klinik ini kami rancang agar pendampingan tetap berjalan setelah KKN selesai,” tambah Fachri.
Dosen Pembimbing Lapangan, Moch Fuad Nasvian, M.I.Kom., menilai pelatihan marketing online sangat dibutuhkan sebagai fondasi pola pikir adaptif pelaku UMKM terhadap perkembangan zaman.
“Teknis digital marketing bisa dipelajari dari internet atau YouTube, tetapi membangun mindset adaptif membutuhkan pendampingan. Alhamdulillah, teman-teman KKN telah memulai tahapan awal pada tahun ini,” ungkapnya.
Ia berharap inisiatif ini bisa dikembangkan lebih sistematis oleh universitas, baik melalui desa binaan maupun layanan berbasis kampus.
Melalui program ini, mahasiswa KKN menegaskan perannya sebagai agen transformasi sosial. Mereka tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi menghadirkan solusi berorientasi keberlanjutan.
Pelatihan penjualan online dan rintisan Klinik UMKM menjadi langkah konkret untuk mendorong UMKM Desa Beji lebih adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




