MALANG POST – Harapan SMPN 4 Kota Batu untuk memiliki ruang guru dan ruang kepala sekolah yang representatif pupus di tengah jalan. Proyek pembangunan yang dibiayai APBD 2025 itu terhenti sejak September tahun lalu setelah ditinggalkan pihak kontraktor. Hingga kini, bangunan tak kunjung rampung dan menyisakan persoalan di lingkungan sekolah.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi proyek yang terbengkalai. Bangunan lama masih berdiri, namun sebagian atapnya telah dibongkar. Di sisi lain, pekerjaan baru sebatas pondasi cakar ayam. Material seperti geragal, besi dan pasir terlihat menumpuk tanpa penataan. Area proyek pun terkesan kumuh dan mengganggu estetika lingkungan sekolah.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas belajar mengajar. Sejumlah ruang yang seharusnya difungsikan sebagai laboratorium dan ruang penunjang kini beralih fungsi.
Kepala SMPN 4 Kota Batu, Henu Lismiyati mengungkapkan, bahwa keterbatasan ruang membuat sekolah harus melakukan penyesuaian darurat. “Proses belajar sedikit terganggu, terutama untuk praktik IPA. Laboratorium IPA fisika saat ini digunakan untuk operasional tata usaha, sedangkan laboratorium IPA biologi digunakan sebagai ruang kelas,” ujarnya.
Tak hanya itu, para guru juga harus berbagi ruang secara terbatas. Bahkan, sebagian guru sementara waktu menempati ruang kelas untuk beraktivitas. Kondisi tersebut dinilai kurang ideal, terutama dalam menunjang profesionalisme dan kenyamanan kerja tenaga pendidik.
“Pelayanan juga kurang maksimal, apalagi saat menerima tamu. Ruang kepala sekolah dan ruang guru belum tersedia sebagaimana mestinya,” imbuh Henu.

MANGKRAK: Kondisi proyek pembangunan ruang guru dan kepala sekolah di SMPN 4 Kota Batu nampak mangkrak, setelah ditinggal oleh kontraktor. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sekolah berharap proyek tersebut bisa segera dilanjutkan agar fasilitas penunjang pembelajaran kembali normal. Selain demi kenyamanan guru, penyelesaian pembangunan juga penting untuk menjaga kualitas layanan pendidikan bagi siswa.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat menyatakan, pihaknya belum bisa mengambil langkah lebih jauh sebelum hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) keluar. Audit tersebut berkaitan dengan pelaksanaan proyek yang mangkrak tersebut.
“Kami masih menunggu hasil audit BPK. Setelah itu, akan kami konsultasikan dengan pimpinan untuk memohon arahan dan petunjuk lebih lanjut,” jelas Alfi.
Ia memastikan, secara prinsip pemerintah daerah berkomitmen memberikan solusi terbaik agar proses belajar mengajar di SMPN 4 tidak terus terganggu. “Yang jelas, kami ingin memastikan sekolah tetap bisa berjalan dengan baik. Kami akan berikan yang terbaik untuk sekolah,” tegasnya.
Mangkraknya proyek pendidikan ini menjadi sorotan, mengingat pembangunan sarana dan prasarana sekolah merupakan kebutuhan mendesak. Apalagi, ruang guru dan ruang kepala sekolah bukan sekadar fasilitas administratif, melainkan bagian penting dalam mendukung manajemen dan kualitas layanan pendidikan.
Kini, warga sekolah hanya bisa menunggu kepastian lanjutan proyek tersebut. Sementara aktivitas belajar mengajar tetap harus berjalan, meski dengan segala keterbatasan ruang yang ada. (Ananto Wibowo)




