MALANG POST – Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, kembali menegaskan, peran Bank Indonesia di daerah adalah sebagai strategic advisor. Untuk membantu dan bersinergi dengan pemerintah daerah, melalui lima area sinergi.
Pertama, pengendalian harga dan ketahanan pangan. Dengan mengendalikan inflasi melalui TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) dan TPIP (Tim Pengendali Inflasi Pusat) dan berbagai inovasi program.
Termasuk gerakan nasional pengendali inflasi pangan, dengan melihat mulai dari sisi produksi, distribusi hingga konsumsi.
“Kalau kita lihat di wilayah Malang dan Probolinggo, inflasi di Januari ini masing-masing tercatat sebesar 3,3 persen dan juga 3,43 persen.”
“Ini memang lebih tinggi dibanding nasional yang di angka 2,9 persen. Tapi tidak apa-apa, karena masih dalam sasaran. Tadi saya katakan 2,5 plus minus 1, ini 3,5 persen. Jadi artinya kalau 3,3 sampai 3,4 persen masih oke,” jelas Filianingsih.
Hal itu disampaikannya, saat Upacara Pengukuhan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, di Grand Ballroom Malang Mirama, Hotel Grand Mercure di Kota Malang.
Indra Kuspriyadi dikukuhkan sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, menggantikan posisi Febrina, yang sudah menjadi komando BI Malang sejak 2024 lalu.
Area sinergi kedua, adalah menjaga pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Malang, pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,78 persen. Lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur sebesar 5,2 persen, bahkan nasional sebesar 5,04 persen.
“Pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja BI Malang, ditopang lima sektor utama. Perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian dan juga penyediaan makanan dan minuman,” tandas perempuan kelahiran Surabaya ini.
Untuk sinergi ketiga, adalah ekonomi kerakyatan. Khususnya sektor UMKM, melalui pendekatan berbasis ekosistem yang menghubungkan UMKM, agregator dan perbankan.

LENGKAP: Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta bersama Wali Kota Malang (tengah), didampingi Indra Kuspriyadi dan Febrina. (Foto: KPwBI Malang for Malang Post)
Bank Indonesia, sebut Filianingsih, memfokuskan pengembangan UMKM pada sektor kumpulan termasuk makan minum, serta produk kreatif yang berbasis wastra. Guna mendukung ketahanan dan juga hilirasasi pangan, sekaligus juga mengembangkan potensi ekspor.
“UMKM binaan, selalu kami dorong go nasional. Jadi tidak hanya main di Malang Raya atau Jawa Timur saja. Lalu kita juga ingin mendorong UMKM menjadi go global. Lewat pemanfaatan pasar digital dan juga integrasi rantai pasok industri.”
“Seluruh upaya tersebut, diperkuat melalui peran kami di Bank Indonesia, yang punya 46 kantor perwakilan Bank Indonesia,” tandas Filianingsih yang pernah bertugas di World Bank ini.
Hal yang keempat adalah digitalisasi. Terutama di bidang sistem pembayaran termasuk pemanfaatan QRIS (baca: KRIS).
Pemanfaatan KRIS ini untuk mengurangi penggunaan uang fisik dan juga mendukung menguatan UMKM. Apalagi saat ini sudah banyak anak muda dan orang tua, mulai terbiasa memakai KRIS.
“Saya memberikan apresiasi atas tingginya ekonomi keuangan digital di wilayah Malang Raya, Pasuruan dan Probolinggo. Di tahun 2025 jumlah merchant KRIS mencapai lebih dari 946 ribu pedagang. Volume transaksinya, lebih dari 157 juta transaksi,” sebutnya.
Hal yang terakhir yang kelima, kata Filianingsih, adalah memastikan uang berkualitas di seluruh wilayah NKRI, hingga wilayah perbatasan. Agar uang yang digunakan masyarakat ini benar-benar layak edar dan tidak lusuh.
“Layanan khas yang handal, adalah fondasi untuk pelancaran aktivitas ekonomi masyarakat. Utamanya menjelang hari besar keagamaan untuk Ramadan, Idul Fitri dan yang lain,” katanya.
Pelaksanaan program implementasi kebijakan ekonomi keuangan daerah, sebutnya, memang perlu diperkuat dengan bersinergi antara pemerintah daerah, Forkopimda, stakeholder dan juga mitra kerja lainnya. Baik perbankan maupun non-perbankan. (Ra Indrata)




