MALANG POST – Gelaran pengukuhan beberapa guru besar Universitas Brawijaya (UB) di Gedung Samantha Krida, Selasa (10/2/2026) bukan sekadar seremoni akademik.
Di balik kata-kata ilmiah yang menggetarkan, ada kisah ketekunan, keberanian dan kasih sayang keluarga yang menyelinap dalam setiap napas Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc.
Di antara deretan dosen hebat yang diangkat menjadi profesor, Trisilowati menjadi sorotan istimewa.
Prof Trisulowati berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan dengan bangga dinyatakan sebagai profesor aktif ke-251 di UB serta profesor ke-443 secara keseluruhan yang lahir dari institusi kebanggaan ini.
Usianya mungkin tak lagi muda, kekuatan fisik sempat terkikis oleh penyakit. Namun semangatnya tidak pernah padam.
Sebelum hari pengukuhan itu, Trisilowati hadir di tempat jumpa pers dan gladi bersih meski dalam keadaan tidak prima.
Ketika banyak orang memilih istirahat, ia memilih berada di sana, menyampaikan komitmennya dengan senyum yang tetap menguatkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
“Ini adalah hari yang spesial bagi saya dan keluarga. Kami tidak akan melewatkan momen ini,” ujarnya menenangkan mereka yang menyaksikan.
Di antara karya ilmiahnya, ia memaparkan sebuah model matematika inovatif bernama SVEIAQHR sebagai strategi mitigasi COVID-19.
Model ini menggabungkan tiga instrumen utama—vaksinasi, edukasi dan karantina. Dalam kerangka kontrol optimasi yang bertujuan menekan jumlah orang yang terinfeksi sambil menjaga biaya intervensi tetap efisien.

Prof. Trisulowati saat melakukan wawancara dengan awak media pada Senin (9/2/2026) kemarin. (Foto: Istimewa)
Dalam presentasinya di Gedung Samantha Krida UB, Prof Trisilowati menegaskan bahwa pendekatan matematika memiliki peran krusial dalam merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran, melengkapi upaya dunia kedokteran dan biologi.
Karyanya tidak sekadar angka dan rumus. Model orde fraksional yang ia kembangkan diyakini mampu merefleksikan tren kasus aktif dengan akurasi lebih tinggi dibanding model konvensional. Variabel kontrol yang dinamis memungkinkan pengambilan kebijakan yang lebih terukur.
Hasil kajian menunjukkan bahwa sinergi antara vaksinasi massal, edukasi protokol kesehatan dan karantina mandiri yang disiplin menjadi kombinasi paling efektif untuk menjaga kurva penyebaran tetap terkendali.
Melalui SVEIAQHR, yang mencakup populasi rentan hingga perawatan di rumah sakit, Prof Trisilowati berharap penemuan ini bisa menjadi rujukan ilmiah bagi kebijakan publik.
“Kontribusi ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi perumusan kebijakan pengendalian penyakit menular dan kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah di masa depan,” katanya menutup orasinya dengan penuh keyakinan.
Pengukuhan Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc., Ph.D., sebagai profesor aktif ke-39 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta profesor aktif ke-251 di Universitas Brawijaya dan profesor ke-443 secara keseluruhan, menandai babak baru yang sarat makna baginya, keluarga, rekannya, dan generasi mahasiswa yang menatapnya dengan harapan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa karya besar sering lahir dari tekad pribadi yang ditempa oleh ujian, didukung oleh orang-orang tercinta, dan disalurkan untuk kebaikan bersama. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




