Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit campak. Sepanjang tahun 2025, tercatat enam kasus campak dan satu kasus rubela terkonfirmasi dari total 120 kasus suspek yang diperiksa. Seluruh sampel tersebut diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati mengatakan, temuan itu menjadi perhatian serius mengingat campak merupakan penyakit infeksius yang sangat mudah menular, terutama pada anak-anak.
“Campak ini penularannya sangat cepat. Dari satu orang bisa menular ke banyak orang di sekitarnya, terutama di lingkungan sekolah atau kerumunan anak-anak,” ujar Susan, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan, munculnya kembali kasus campak tidak lepas dari sejumlah faktor. Salah satunya adalah penurunan cakupan imunisasi anak yang terjadi sejak pandemi COVID-19. Selama periode tersebut, banyak anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal, sehingga meningkatkan risiko tertular penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Selain itu, rendahnya kekebalan kelompok atau herd immunity juga turut berperan. Susana menyebutkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan cakupan imunisasi minimal 95 persen untuk mencegah penularan campak dan rubela. Namun, di sejumlah wilayah, cakupan imunisasi dosis kedua vaksin Measles Rubella (MR) masih belum memenuhi target tersebut.
“Tingginya mobilitas anak-anak, aktivitas belajar tatap muka di sekolah, serta interaksi di ruang publik juga mempercepat penyebaran virus, terutama bila perlindungan imunisasi belum optimal,” imbuhnya.
Meski demikian, Susana memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus campak maupun rubela yang berujung pada kematian di Kota Batu. Kendati begitu, langkah antisipasi tetap diperkuat untuk mencegah meluasnya penularan.
Dinkes Kota Batu pun mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan berperan aktif dalam upaya pencegahan. Langkah utama yang ditekankan adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Vaksin MR dinilai sebagai perlindungan paling efektif terhadap campak dan rubela.
“Imunisasi wajib diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan saat masuk kelas 1 sekolah dasar. Ini penting untuk membentuk kekebalan tubuh anak secara optimal,” tegasnya.
Selain imunisasi, Dinkes juga mengingatkan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di antaranya dengan membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan etika batuk dan bersin.
Orang tua juga diminta segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala campak seperti demam tinggi, ruam kemerahan di kulit, batuk, pilek dan mata merah. Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah penularan ke lingkungan sekitar.
“Kalau ada gejala, jangan menunggu parah. Segera periksa dan sementara hindari kontak dengan anak-anak lain,” tambahnya.
Dengan penguatan imunisasi dan peran aktif masyarakat, Dinkes Kota Batu berharap penyebaran campak dan rubela dapat ditekan, sekaligus melindungi kesehatan anak-anak di Kota Batu. (Ananto Wibowo)




