Empat dari lima profesor yang rencananya akan dikukuhkan Selasa (10/2/2026) di Gedung Samantha Krida meliputi: 1) Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc. (FMIPA) 2) Prof. Dr. Eng. Fadly Usman, MT (FT) 3) Prof. Dr. Eng. Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM., ASEAN Eng. (FT) 4) Prof. Achmad Efendi, S.Si., M.Sc., Ph.D. (FMIPA). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Universitas Brawijaya kembali mengukuhkan beberapa profesor dari berbagai bidang ilmu yang akan memberikan orasi ilmiahnya di depan Senat Akademik Universitas (SAU), Selasa (10/2/2026) di Gedung Samantha Krida. Mereka adalah:
1) Prof. Achmad Efendi, S.Si., M.Sc., Ph.D. (FMIPA).
MIXED MODEL: Model Campuran Untuk Klasifikasi dengan Hybrid PCA dan ICA
Statistika mempelajari pengumpulan, manajemen, analisis, dan interpretasi data dari berbagai bidang: biomedis, biometrika, ekonomi, sosial, termasuk data bertingkat (misalnya kabupaten–provinsi, polling, preferensi, riwayat penyakit, data klinis). Pemodelan mixed model menilai campuran efek tetap (fixed) dan acak (random), dapat berupa regresi untuk berbagai tipe data (normal, biner, multinomial, cacah, survival), dengan interpretasi populasi maupun subjek tertentu.
Secara khusus, mixed model dalam presentasi ini merujuk pada kombinasi Hybrid PCA dan ICA: PCA/ICA mengidentifikasi komponen utama, memisahkan variabel, dan mereduksi dimensi. Pemodelan mencakup estimasi, prediksi, dan simulasi. Data bertingkat yang pernah diteliti meliputi penyakit kuku, kemiskinan, kinerja kredit bank, polling, nilai saham, serta angka kemiskinan nasional maupun daerah.
Arah riset ke depan menekankan penguatan statistika komputasi melalui integrasi mixed model, pendekatan Bayesian, dan pemanfaatan data berdimensi tinggi. Fokus penelitian: data longitudinal/bertingkat yang ter-overdispersi; Bayesian sebagai alternatif optimasi yang efisien; penanganan karakteristik data (misalnya spasial); serta simulasi untuk data hierarki. Selain itu, penerapan pada tipe data masa kini—seperti data dari WhatsApp, X (Twitter), TikTok, dan Instagram—akan memperkaya kajian statistika komputasi dan manfaatnya bagi masyarakat.
2) Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc., Ph.D. (FMIPA UB).
Model Kontrol SVEIAQHR untuk Mitigasi COVID-19
Model SVEIAQHR mengintegrasikan vaksinasi, edukasi, dan karantina secara simultan, menggunakan pendekatan orde fraksional untuk merepresentasikan tren kasus aktif dengan akurasi lebih tinggi.
Komponen model mencakup: Susceptible, Vaccinated, Exposed, Infectious (asymptomatic dan symptomatic), Quarantined, Hospitalized. Variabel kendali dinamis memfasilitasi kebijakan yang lebih terukur, menunjukkan kombinasi vaksinasi massal, edukasi protokol kesehatan dan karantina mandiri yang optimal dalam menekan kurva penyebaran.
Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan ilmiah bagi kebijakan pengendalian penyakit menular dan kesiapsiagaan menghadapi wabah di masa depan.
3) Prof. Defri Yona, S.Pi., M.Sc. Stude., D.Sc. (FPIK).
KERIS-LAUT: Membangun Kerangka Risiko Integratif untuk Pengendalian Pencemaran Laut Indonesia
Defri, alumni Pukyong National University Korea Selatan, diukuhkan sebagai Profesor Pencemaran Laut. Orasi berjudul KERIS-LAUT memperkenalkan kerangka yang mengintegrasikan alur perpindahan polutan, akumulasi, serta risiko ekologis dan kesehatan dalam satu sistem untuk menunjang penanganan pencemaran laut.
KERIS-LAUT menyediakan dasar ilmiah untuk mengidentifikasi hotspot, menetapkan prioritas penanganan, dan merancang mitigasi sesuai karakter ekosistem serta tingkat risiko—relevan bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan, menjembatani skala lokal–regional serta terkait keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.
4) Prof. Dr. Eng. Fadly Usman, MT (Fakultas Teknik).
Model KOSTAL: Strategi Penataan dan Mitigasi Kawasan Pesisir Rendah Risiko Bencana
Fadly Usman, lulusan Universitas Miyazaki, diukuhkan sebagai Profesor Ilmu Manajemen Kebencanaan. Pidato pengukuhannya bertema Model KOSTAL: Strategi Penataan dan Mitigasi Kawasan Pesisir Rendah Risiko Bencana. Model KOSTAL fokus meningkatkan kapasitas masyarakat melalui teknologi informasi ramah biaya.
“KOSTAL adalah kesiapsiagaan orangnya. Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda sebelum tsunami.” Contoh penerapan: Pulau Simeulue dan Jepang yang menunjukkan kesadaran budaya lokal tentang tanda bencana.
Pengembangan model ini berangkat dari penataan pantai yang membedakan antara daerah aman dan terdampak, dengan menempatkan manusia sebagai faktor utama. Antara 2019–2024, ia mengembangkan alat Early Warning System (EWS) yang bisa diproduksi desa sendiri.
EWS mendeteksi pola gelombang laut; jika ada gerakan tidak biasa, kepala desa atau petugas berwenang bisa menekan tombol peringatan. “EWS umumnya mahal di laut (triliunan). Kita buat versi portable sekitar 15 jutaan yang bisa dibuat desa sendiri,” ujar Fadly.
5) Prof. Dr. Eng. Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM., ASEAN Eng. (Fakultas Teknik).
River Index untuk Pengukuran Kualitas Perairan Tropis
River Index mengintegrasikan mikroplastik, parameter fisik-kimia air, dan tata guna lahan untuk menilai kualitas air secara komprehensif. Penelitian fokus pada studi kasus sungai perkotaan, permukiman, industri, pertanian, dan pengelolaan limbah. Kualitas air tropis terancam degradasi akibat urbanisasi, tata guna lahan, dan masuknya mikroplastik.
Risiko ekologis muncul dari interaksi mikroplastik dengan bahan organik, nutrien, dan kondisi perairan, sehingga dampak gabungannya mengancam organisme akuatik, rantai makanan, dan stabilitas ekosistem. Keunikan River Index adalah memposisikan mikroplastik sebagai penguat risiko ekologis, bukan pola pencemar tunggal.
Konsep ini diharapkan menjadi basis riset, kebijakan, dan praktik pengelolaan perairan berkelanjutan di wilayah tropis. Dengan kolaborasi riset, partisipasi pemuda peneliti, dan kemitraan pemangku kepentingan, River Index dapat dikembangkan dan diimplementasikan lebih luas. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




