Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Ancaman kanker payudara dan kanker serviks masih menjadi pekerjaan rumah serius di Kota Batu. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu kembali menyalakan alarm kewaspadaan setelah 56 kasus kanker payudara dan enam kasus kanker serviks tercatat dalam satu tahun terakhir.
Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa deteksi dini belum berjalan optimal. Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati, menyebut sebagian besar pasien datang dalam kondisi terlambat.
“Masalah utamanya masih sama, kesadaran untuk periksa sejak dini masih rendah. Banyak yang baru datang ketika sudah bergejala berat,” ujar Susan, Senin (9/2/2026).
Padahal, kanker payudara maupun serviks dikenal sebagai penyakit yang sangat bisa dikendalikan bila ditemukan sejak stadium awal. Sayangnya, pada fase awal, kanker sering tidak menunjukkan tanda-tanda yang mudah dikenali.
Untuk memutus mata rantai keterlambatan itu, Dinkes Batu memasang target cukup agresif. Setiap tahun, 1.300 perempuan usia produktif ditargetkan mengikuti skrining dini kanker payudara. Langkah ini dilakukan secara masif melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Upaya skrining difokuskan pada edukasi dan penerapan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) serta SADANIS (Periksa Payudara Klinis). Kedua metode ini dinilai efektif untuk menemukan kelainan sejak dini, sebelum berkembang menjadi kanker stadium lanjut.
“Kalau terdeteksi lebih awal, pengobatan lebih sederhana, peluang sembuh tinggi, dan risiko kematian bisa ditekan,” tegas Susan.
Selain kanker payudara, Dinkes Kota Batu juga memperkuat upaya pencegahan kanker serviks. Salah satunya dengan mendorong pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), metode deteksi dini lesi pra-kanker yang murah namun akurat.
Tes IVA dipilih karena memiliki tingkat spesifisitas hingga 98 persen, sekaligus mudah diterapkan di layanan kesehatan dasar. Seluruh Puskesmas di Kota Batu telah menyiapkan bidan terlatih untuk memberikan layanan IVA secara gratis.
“Masyarakat tidak perlu ke rumah sakit besar. Di Puskesmas sudah bisa, cepat dan tanpa biaya,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Dinkes Batu juga menggencarkan vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV). Vaksin ini diberikan secara gratis bagi wanita usia produktif serta siswi sekolah, sebagai benteng awal terhadap kanker serviks.
Susan optimistis, dengan deteksi dini yang konsisten dan edukasi berkelanjutan, angka kesakitan hingga kematian akibat kanker bisa ditekan secara signifikan.
Di sisi lain, kekhawatiran masyarakat terkait mahalnya biaya pengobatan kanker dipastikan bukan lagi hambatan utama. BPJS Kesehatan menjamin seluruh rangkaian layanan kanker dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Batu, Erra Widayati menegaskan, bahwa layanan kanker masuk dalam penjaminan penuh, mulai dari upaya promotif dan preventif hingga tindakan kuratif.
“Pemeriksaan, pengobatan, termasuk kemoterapi, semuanya dijamin sesuai prosedur. Pasien bisa fokus sembuh tanpa dibebani biaya besar,” ujarnya.
Dengan kolaborasi antara Dinkes, Puskesmas dan BPJS Kesehatan, Pemkot Batu berharap kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini semakin meningkat. Sebab, dalam kasus kanker, datang lebih awal sering kali menjadi penentu hidup dan mati. (Ananto Wibowo)




