MALANG POST – Akses jalan provinsi penghubung Kota Batu dengan Kediri kembali terganggu. Penyebabnya, tebing setinggi sekitar 10 meter di Jalan Trunojoyo, tepatnya di kawasan Payung 3, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, longsor pada Selasa (3/2/2026) malam.
Material longsoran menutup sebagian badan jalan dan membuat arus lalu lintas di jalur vital itu tersendat. Longsor dipicu karena tanah jenuh air akibat intensitas hujan tinggi yang mengguyur Kota Batu dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tanah yang jenuh air membuat struktur tebing di kawasan Payung menjadi labil. Akibatnya, longsoran dengan panjang sekitar 4 meter dan lebar 2 meter meluncur ke badan jalan, memaksa petugas memberlakukan sistem buka-tutup demi keselamatan pengguna jalan.
Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Batu, Suwoko menjelaskan, bahwa laporan kejadian diterima Pusdalops BPBD pada Rabu (4/2/2026) sekitar pukul 07.42 WIB. Begitu laporan masuk, tim gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat.
‘Pemicunya adalah curah hujan yang terjadi terus-menerus. Tanah di tebing kawasan Payung menjadi gembur dan tidak stabil, sehingga terjadi longsoran yang menutup sebagian jalan penghubung Batu–Pujon,” jelas Suwoko.
Material longsoran yang cukup tebal membuat proses pembersihan tidak bisa dilakukan secara instan. Penanganan melibatkan personel gabungan dari BPBD Kota Batu, TNI, Polri, Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, relawan kebencanaan, hingga Paguyuban Payung. Alat manual dan peralatan pendukung dikerahkan untuk memastikan badan jalan bisa segera difungsikan kembali.

BERSIHKAN METERIAL: BPBD Kota Batu bersama personal gabungan saat bahu membahu membersihkan material sisa longsor di kawasan Payung 3, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Selama proses evakuasi material berlangsung, arus lalu lintas tetap diberlakukan sistem buka-tutup. Petugas Kepolisian bersama BPBD bersiaga di lokasi untuk mengatur kendaraan yang melintas. Langkah ini diambil mengingat potensi longsor susulan masih cukup tinggi, terutama jika hujan kembali turun di wilayah hulu.
“Keamanan pengguna jalan menjadi prioritas. Struktur tanah masih labil dan kami tidak ingin mengambil risiko,” tegas Suwoko.
Tidak ada korban jiwa maupun kendaraan yang tertimbun dalam kejadian ini. Namun, peristiwa tersebut kembali menegaskan kerawanan jalur Payung, yang selama ini dikenal sebagai kawasan rawan longsor dan pohon tumbang, terutama saat musim hujan.
Rabu siang, jalur Payung 3 sudah mulai bisa dilalui kendaraan secara bergantian. Meski demikian, sisa material tanah yang masih licin di beberapa titik menjadi ancaman tersendiri, khususnya bagi pengendara roda dua.
BPBD Kota Batu mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat melintasi kawasan Payung. Pengguna jalan diminta memantau kondisi cuaca sebelum bepergian dan tidak memaksakan melintas jika hujan deras disertai angin kencang masih terjadi.
“Kami minta masyarakat ekstra waspada. Jika kondisi cuaca ekstrem, sebaiknya menunda perjalanan atau mencari jalur alternatif,” pungkas Suwoko. (Ananto Wibowo)




