MALANG POST – Upaya mengurangi timbunan sampah organik sekaligus mendorong gerakan ramah lingkungan terus digencarkan di Kota Batu. Salah satunya dilakukan TPS3R Kelurahan Dadaprejo yang menginisiasi kampanye pembuatan eco enzyme, cairan hasil fermentasi limbah dapur yang memiliki beragam manfaat bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut digelar dengan melibatkan pengurus TPS3R se-Kota Batu, warga setempat, hingga pengelola bank sampah. Kampanye ini menjadi langkah nyata mengolah limbah organik seperti sisa kulit buah dan sayuran, agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan dimanfaatkan kembali secara produktif.
Ketua TPS3R Dadaprejo, Sunarto mengatakan, pelatihan eco enzyme ini bertujuan agar manfaatnya bisa langsung diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pengelolaan sampah di TPS3R.
“Eco enzyme ini manfaatnya banyak sekali. Bisa untuk kesehatan, kebutuhan rumah tangga, sampai pengolahan sampah. Karena itu kami ingin masyarakat paham dan bisa mempraktikkannya sendiri,” ujar Sunarto, Rabu (4/1/2026).
Dalam pelatihan tersebut, seluruh peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga diberi contoh eco enzyme yang sudah jadi. Mengingat proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, peserta diperbolehkan membawa pulang cairan eco enzyme siap pakai.
“Yang kami bagikan ini sudah jadi. Bisa langsung dipakai untuk membersihkan lantai, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan dan minum. Sangat irit dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Di TPS3R Dadaprejo sendiri, eco enzyme sudah dimanfaatkan secara rutin, khususnya untuk menekan dampak polusi udara dari proses pembakaran sampah menggunakan incinerator. “Untuk mengurangi asap pembakaran, air di incinerator kami campur sekitar setengah liter eco enzyme. Hasilnya, asap tidak terlalu pekat dan polusi udara bisa ditekan,” tambah Sunarto.
Tak hanya itu, eco enzyme juga efektif mengurangi bau sampah, terutama sampah organik, sekaligus menekan populasi lalat yang kerap meningkat saat musim penghujan. “Lalat di TPS3R itu sangat banyak, apalagi kalau hujan. Dengan eco enzyme, baunya berkurang dan lalat juga bisa ditekan,” katanya.

ECO ENZYME: Mentor Eco Enzyme Kota Batu, Gung Endah saat mempraktikkan cara pembuatan eco enzyme. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kegiatan pelatihan ini menjadi yang pertama kali digelar TPS3R Dadaprejo. Seluruh inisiatif dilakukan secara mandiri, dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. “Kami inisiasi sendiri dan alhamdulillah mendapat dukungan DLH. Harapannya ini bisa ditiru TPS3R lain,” ujarnya.
Selain pengelolaan sampah cair, TPS3R Dadaprejo juga memproduksi kompos yang rencananya akan dipasarkan ke petani. Namun, karakteristik kompos yang membutuhkan waktu panen lebih lama membuatnya lebih cocok untuk tanaman tahunan.
“Di sini banyak petani dengan masa panen cepat, 3–4 bulan. Kalau kompos kurang pas. Tapi untuk tanaman musiman seperti jeruk, apel, durian, ini sangat cocok,” jelas Sunarto.
Sementara itu, Mentor Eco Enzyme Kota Batu, Gung Endah menuturkan, bahwa eco enzyme memiliki peran penting dalam mengurangi beban sampah di TPA maupun TPS3R, sekaligus menekan dampak pemanasan global.
“Sampah organik yang menumpuk akan menghasilkan gas metan. Gas ini sangat berbahaya karena menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global,” jelasnya.
Menurut Gung Endah, eco enzyme bersifat multi-manfaat. Selain untuk pertanian organik, cairan ini juga mampu mengurai polusi udara, mengurangi bau busuk sampah, hingga membantu menjernihkan air. “Di rumah tangga, eco enzyme bisa menggantikan bahan kimia sintetis. Mulai dari keramas, mandi, gosok gigi, menghilangkan bau badan, mengepel, hingga mencuci piring,” paparnya.
Ia menjelaskan, pembuatan eco enzyme menggunakan rumus baku 1:3:10 yang ditemukan oleh Dr. Rosukon Poompanvong dari Thailand melalui penelitian selama lebih dari 30 tahun. “Rumusnya tidak boleh diubah. Satu bagian gula, tiga bagian kulit buah dan sayur, serta sepuluh bagian air,” tegasnya.
Air yang digunakan bisa berasal dari air sumur, mata air, maupun PDAM. Sementara untuk bahan gula, disarankan menggunakan molase karena hasil fermentasinya lebih baik dan harganya relatif murah. “Bahan organiknya dari kulit buah dan sayur, buah akhiran yang tidak terpakai, termasuk sisa dari toko buah. Semua bahan mentah dan memanfaatkan limbah,” jelasnya.
Manfaat eco enzyme, lanjut Gung Endah, sudah terbukti secara nyata. Salah satu contohnya adalah penerapan di TPA Tlekung. “Sejak 2021 kami aktif melakukan penyemprotan. Saat diuji, kadar gas metan awalnya mencapai 1.600 ppm. 15 menit setelah disemprot eco enzyme, turun menjadi sekitar 600 ppm,” ungkapnya.
Gas metan sendiri merupakan gas berbahaya yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Penyemprotan eco enzyme di TPA Tlekung dilakukan secara rutin selama sekitar satu setengah tahun, hingga TPA tersebut ditutup. “Dalam satu minggu saja baunya sudah jauh berkurang. Akhirnya dipakai terus mulai Februari 2022 sampai TPA Tlekung ditutup,” tandasnya. (Ananto Wibowo)




