MALANG POST – Bahaya tersembunyi bekas galian tambang kembali menunjukkan wajahnya. Tanpa didahului hujan maupun getaran, tanah di Jalan Imam Bonjol Gang 3, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, mendadak ambles, kemarin.
Tepat pukul 11.43 WIB, sebuah lubang raksasa sedalam sekitar 12 meter dengan diameter kurang lebih empat meter menganga di tengah kawasan padat penduduk.
Peristiwa mengejutkan itu menimpa rumah milik Kosim, warga RT 2/RW 1. Bagian dapur dan kamar mandi rumahnya amblas ke dalam lubang, membuat hunian tersebut tak lagi layak ditempati.
Beruntung, tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, struktur bangunan di sekitar lokasi kini berada dalam kondisi rawan dan berpotensi terdampak.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko menjelaskan, bahwa amblesan tanah tersebut kuat diduga berkaitan dengan kondisi tanah yang tidak stabil. Lokasi kejadian diketahui berada di atas bekas area galian C yang tidak pernah direklamasi.
“Galian ini diperkirakan sudah terjadi puluhan tahun lalu. Struktur tanahnya rapuh dan tidak lagi mampu menahan beban bangunan,” ujar Suwoko, Selasa (3/2/2026)

AMBLAS: Sebuah rumah di Kelurahan Sisir Kota Batu tiba-tiba mengalami tanah amblas, hal itu disinyalir karena dulunya kawasan tersebut merupakan bekas galian C. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Berdasarkan hasil kaji cepat, lubang ambles berada tepat di bawah pondasi bangunan bagian belakang rumah korban. Atas kondisi itu, BPBD langsung merekomendasikan agar rumah tersebut dikosongkan sementara waktu.
Petugas juga melakukan evakuasi, sterilisasi area, serta pemasangan garis pengaman di sekitar bibir lubang untuk mencegah warga mendekat dan meminimalkan risiko lanjutan.
Sejumlah langkah darurat telah disiapkan. Mulai dari rencana pengurukan lubang guna mencegah amblesan meluas, penyiapan logistik bagi warga terdampak, hingga kerja bakti pembersihan material di sekitar lokasi. Selain itu, BPBD juga akan melakukan uji kelayakan bangunan di sekitar area bekas tambang untuk memetakan potensi bahaya lanjutan.
“Kami mengimbau warga tetap waspada, terutama yang bermukim di kawasan bekas galian. Amblesan bisa terjadi sewaktu-waktu, tanpa tanda-tanda awal,” tegasnya.
Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi di wilayah Kelurahan Sisir. Pada September 2025 lalu, amblesan tanah dengan karakter serupa juga terjadi di Jalan KH Agus Salim. Saat itu, lubang yang terbentuk memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter dengan diameter hampir empat meter.
Pola kejadian yang berulang tersebut memperkuat dugaan lemahnya pengawasan serta minimnya penanganan reklamasi pascatambang di kawasan permukiman. Bekas galian C yang dibiarkan tanpa pemulihan bukan hanya memicu amblesan tanah, tetapi juga menyimpan ancaman kerusakan lingkungan jangka panjang.
Mulai dari potensi krisis air bersih hingga risiko keselamatan warga yang sewaktu-waktu bisa terancam. Jika tak ditangani serius, lubang-lubang lama yang tersembunyi di bawah permukiman bisa terus menjadi bom waktu di tengah kota. (Ananto Wibowo)




