MENURUN: Harga cabai rawit dan cabai merah yang turun di bulan Januari, menyebabkan Kota Malang mengalami deflasi. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang dan Kota Probolinggo pada Januari, kompak mengalami deflasi.
Kota Malang, sebesar 0,10 persen (mtm), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya dengan inflasi 0,56 persen (yoy). Sedang Kota Probolinggo, sebesar 0,03 persen (mtm), lebih rendah dari Desember 2025, yang mencatatkan inflasi sebesar 0,57 persen (mtm).
Dengan capaian tersebut, Kota Malang mengalami inflasi tahunan sebesar 3,33 persen (yoy), berada di atas inflasi tahunan Jawa Timur sebesar 3,29 (yoy). Namun masih berada di bawah inflasi tahunan Nasional sebesar 3,55 persen (yoy).
Sementara secara tahunan, Kota Probolinggo mencatatkan inflasi sebesar 3,43 persen (yoy) atau masih dalam rentang sasaran inflasi sebesar 2,5 + 1 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi, dalam rilis yang diterima Malang Post, menyebutkan, deflasi IHK pada Januari 2026 di Kota Malang, terutama didorong oleh penurunan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Andil deflasi sebesar 0,34 persen (mtm).
“Kalau dari penyebabnya, deflasi Kota Malang terutama didorong oleh penurunan harga komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah. Masing-masing dengan andil sebesar -0,07 persen, -0,07 persen, -0,07 persen, -0,06 persen, dan -0,05 persen (mtm),” jelas Indra.
Penurunan harga daging dan telur ayam ras tersebut, tambahnya, dipengaruhi oleh lancarnya pasokan barang serta berkurangnya permintaan daging dan telur ayam ras setelah momen Natal dan Tahun Baru.
Sementara itu, penurunan komoditas hortikultura cabai rawit, cabai merah dan bawang merah seiring dengan terjaganya jumlah pasokan di tengah periode musim panen raya pada sentra produksi.
Deflasi yang lebih dalam, tertahan oleh beberapa komoditas yang mencatatkan inflasi. Yakni emas perhiasan, jeruk, kontrak rumah, bawang putih, dan apel dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,22 persen, 0,03 persen, 0,02 persen, 0,02 persen dan 0,01 persen (mtm).
“Kenaikan harga emas perhiasan seiring peningkatan harga komoditas emas dunia yang terus berlanjut. Sedangkan peningkatan komoditas kontrak rumah, disebabkan oleh pemberlakukan tarif baru oleh pemilik rumah yang dilakukan setiap awal tahun,” ujarnya.
Selanjutnya, kenaikan harga komoditas jeruk dan apel seiring dengan kenaikan permintaan. Untuk kenaikan harga bawang putih dikarenakan pada bulan Januari belum ada realisasi impor bawang putih dari negara produsen. Padahal sekitar 90–95 persen kebutuhan bawang putih dalam negeri dipenuhi dari pengadaan luar negeri.
“Menghadapi tekanan inflasi pada periode Imlek dan Ramadhan yang jatuh pada bulan ini, TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah), akan meningkatkan intensitas pemantauan harga dan siap untuk menggelar operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok,” tegasnya.

PIMPINAN BARU: Indra Kuspriyadi, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang. (Foto: Instagram BI Malang)
Sedangkan di Kota Probolinggo, Inflasi IHK pada Januari 2026, terutama didorong oleh penurunan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil deflasi sebesar 0,29 persen (mtm).
Indra menyebut, Berdasarkan komoditasnya, deflasi terutama didorong oleh penurunan harga komoditas Daging Ayam Ras, Cabai Rawit, Telur Ayam Ras, Cabai Merah, Bawang Merah. Masing-masing dengan andil sebesar 0,12 persen, 0,07 persen, 0,04 persen, 0,04 persen dan 0,03 persen (mtm).
“Penurunan harga daging dan telur ayam ras tersebut dipengaruhi oleh lancarnya pasokan barang, serta berkurangnya permintaan daging dan telur ayam ras setelah momen Natal dan Tahun Baru,” sebut Kepala KPwBI yang menggantikan posisi Febrina di bulan ini juga.
Sementara itu, penurunan komoditas hortikultura cabai rawit, cabai merah dan bawang merah seiring dengan terjaganya jumlah pasokan di tengah periode musim panen raya pada sentra produksi.
Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga komoditas emas perhiasan, bawang putih, mobil, beras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,22 persen, 0,02 persen, 0,01 persen dan 0,01 persen (mtm).
Kenaikan harga komoditas emas perhiasan seiring dengan berlanjutnya kenaikan komoditas emas dunia. Selanjutnya, kenaikan harga bawang putih dikarenakan pada bulan Januari belum ada realisasi impor bawang putih dari negara produsen. Padahal sekitar 90–95 persen kebutuhan bawang putih dalam negeri dipenuhi dari pengadaan luar negeri.
Kenaikan harga mobil terjadi seiring dengan tren kenaikan di awal tahun. Sementara kenaikan harga beras disebabkan seiring kenaikan harga di tingkat penggilingan.
Menghadapi tekanan inflasi pada periode Imlek dan Ramadhan yang jatuh pada bulan ini, TPID akan meningkatkan intensitas pemantauan harga dan siap untuk menggelar operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Sinergi kebijakan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia Malang akan terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan penguatan program 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi serta Komunikasi efektif) untuk menjaga level inflasi berada dalam rentang sasaran 2,5 ± 1 persen (yoy). (*/Ra Indrata)




