MALANG POST – Perjalanan akademik Hashem Abdullah Saeed Bin Ghaleb dari Yaman menuju Universitas Negeri Malang dan pengalaman studi di Malaysia telah mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih mandiri, adaptif dan terbuka terhadap keragaman budaya.
Relasi dosen dan mahasiswa di UM cenderung formal, meski tetap membuka ruang untuk diskusi. Hal ini menandai dinamika lingkungan akademik yang menghargai tata krama, namun tidak menutup peluang bagi interaksi yang lebih humanis.
Aspek ini, menurut Hashem, berbeda dengan nuansa di tanah air sendiri. Di Indonesia, ia merasakan kedekatan personal dengan dosen serta interaksi antarmahasiswa yang kental dengan nuansa kekeluargaan, sehingga atmosfir belajar terasa lebih personal dan akrab.
Di ranah budaya dan kuliner, Hashem semakin berwarna. Penggunaan bahasa daerah di Malang serta perbedaan kosakata Bahasa Melayu di Malaysia menjadi tantangan kecil yang memperkaya wawasannya.
Dari sisi kuliner, Hashem mengaku jatuh hati pada masakan Indonesia, terutama masakan Padang. Sementara saat berada di Malaysia, budaya mamak dengan roti canai dan teh tarik memberikan rasa akrab yang membangkitkan kenangan akan tradisi berkumpul di negara-negara Arab.
Serangkaian pengalaman lintas budaya ini membentuk Hashem menjadi sosok yang lebih mandiri dan siap menghadapi tantangan global. Ia kini lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain, serta lebih terbuka terhadap perbedaan yang ada.
“Saya belajar bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus ditolak, tetapi dipahami,” ujar Hashem.
Perjalanan Hashem Abdullah Saeed Bin Ghaleb dari Yaman ke UM, hingga menapaki pengalaman akademik di Malaysia, menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar pencapaian akademik.
Lebih dari itu, pendidikan adalah ruang perjumpaan antara ilmu, budaya, dan nilai kemanusiaan yang membentuk cara seseorang memahami dunia.
Dalam pandangan Hashem, pendidikan adalah fondasi yang menguatkan empati dan kerjasama di kancah global. (M. Abd Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




