MALANG POST – Cuaca tidak menentu dan curah hujan tinggi belakangan ini membawa dampak nyata terhadap kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Malang.
Musim hujan yang berkepanjangan menciptakan genangan air dan wadah terbuka yang menjadi tempat berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, faktor utama penyebab penyakit ini.
Statistik Dinkes Kota Malang menunjukkan total 1.954 kasus DBD sepanjang 2023–2025. Rinciannya, tahun 2023: 462 kasus, 4 kematian. Tahun 2024: 777 kasus, 4 kematian. Tahun 2025: 715 kasus, 5 kematian
Angka-angka ini menunjukkan pola yang cukup konsisten: DBD tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat meski tingkat kematian relatif rendah. Peningkatan kasus pada 2024 sejalan dengan curah hujan lebih tinggi, yang meningkatkan peluang genangan air dan tempat berkembang biak nyamuk jika upaya pencegahan tidak optimal.
Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor.
“Setiap tahun DBD masih ada dan jumlahnya cukup besar. Artinya, DBD tetap menjadi ancaman kesehatan di Kota Malang,” ungkapnya.

Pernyataan ini menyoroti perlunya kolaborasi antara pemerintah, fasilitas layanan kesehatan, dan masyarakat.
Faktor risiko DBD di Kota Malang meliputi:
- Cuaca: Genangan air yang berkepanjangan meningkatkan peluang berkembang biak nyamuk.
- Kondisi pemukiman: Wadah terbuka dan sampah menumpuk memperburuk risiko.
- Perilaku pembersihan: Kebersihan lingkungan yang kurang disiplin menjadi hambatan utama.
- Mobilitas dan respons kesehatan: Akses layanan kesehatan dan kepatuhan pada program 3M sangat menentukan laju penularan dan angka kematian.
Kunci pencegahan tetap Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M dan 3M Plus.
Langkah operasional yang direkomendasikan:
- Menguras dan membersihkan tempat penampungan air secara rutin.
- Menutup rapat wadah penyimpanan air (drum, jerigen, ember, bak) di rumah maupun fasilitas umum.
- Menggunakan kembali wadah bekas dengan aman untuk mencegah genangan.
- Gunakan larvasida sesuai rekomendasi untuk membunuh larva nyamuk.
- Jaga kebersihan lingkungan, bersihkan saluran air, kurangi tumpukan sampah, dan potong tumbuhan yang bisa jadi sarang nyamuk.
- Lakukan pemeriksaan rutin di fasilitas umum, tempat pembuangan sampah, dan area pendidikan untuk memastikan penerapan 3M sejak dini.
Prediksi periode puncak kejadian DBD diperkirakan antara Maret–April berdasarkan tren sebelumnya.

Oleh karena itu, kewaspadaan dan intensifikasi PSN perlu ditingkatkan pada periode tersebut. Masyarakat didorong melaporkan genangan air berpotensi sarang nyamuk ke RT/RW setempat atau fasilitas kesehatan terdekat untuk respons cepat.
Imbauan ini menekankan pencegahan sebagai langkah utama, bukan hanya kuratif. Upaya kolaboratif antara Dinkes, kelurahan/desa, komunitas RT/RW, sekolah, tempat ibadah, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas genangan air.
Checklist kebijakan publik yang bisa dipertimbangkan:
- Bantuan logistik untuk program PSN, termasuk larvasida ramah lingkungan.
- Edukasi berkelanjutan di sekolah dan fasilitas umum mengenai tanda bahaya DBD dan pentingnya kebersihan lingkungan.
- Pemantauan dan evaluasi berkala atas efektivitas 3M/3M Plus, dengan data berbasis lokasi untuk menarget wilayah berisiko tinggi.
- Kolaborasi dengan sektor perumahan publik dan swasta untuk desain lingkungan yang lebih ramah nyamuk (drainase lebih baik, wadah air tertutup, pengelolaan sampah lebih efektif).
Dengan memahami faktor risiko dan menekankan pencegahan melalui 3M/3M Plus, diharapkan Kota Malang bisa menurunkan kejadian DBD di masa mendatang.
Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci menuju kota yang lebih sehat dan bebas ancaman DBD. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




