MALANG POST – Kampus II Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berubah wajah menjadi area kerja nyata bagi 68 siswa kelas 12 Teknik Geomatika SMKN 1 Singosari. Selama dua pekan penuh, lahan seluas 10 hektar dari total 65 hektar kampus dipakai sebagai lokasi Program Project Based Learning (PBL) untuk pembuatan peta skala besar.
Kaprodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., menyambut bangga pemilihan kampusnya sebagai lokasi proyek. Menurutnya, Geodesi dan Geomatika berasal dari akar keilmuan yang sama, sehingga sinergi ini sangat tepat untuk menguatkan kompetensi siswa.
DK Sunaryo menegaskan bahwa Teknik Geodesi ITN Malang termasuk prodi tertua di Jawa Timur yang terus berevolusi mengikuti kemajuan zaman. Ia mengingatkan peserta didik untuk bersiap menghadapi pergeseran industri menuju Artificial Intelligence (AI).
“Sekarang kalian belajar pakai Total Station dan drone, tapi ke depan semua akan berbasis AI. Data drone akan diolah otomatis. Kita tidak boleh menghindari teknologi, tetapi menguasainya,” tegasnya.
Sambutan hangat juga datang dari jajaran pimpinan saat siswa tiba di hari pertama. Sunaryo menambahkan bahwa riset di Teknik Geodesi tidak hanya terbatas di darat, melainkan mencakup tiga matra, termasuk pemetaan laut melalui laboratorium lapangan di Sendang Biru.

Kepala Konsentrasi Keahlian Teknik Geomatika SMKN 1 Singosari, Widya Prajna, ST., menjelaskan bahwa PBL kali ini adalah simulasi perusahaan. Siswa dibagi dalam struktur organisasi mulai dari manajer proyek hingga surveyor, guna memberi mereka pengalaman kerja yang nyata.
“Kami memilih ITN karena sudah ada kerja sama, administrasinya mudah, dan jaraknya dekat. Harapannya, dosen Geodesi ITN bisa menguji langsung anak-anak kami nanti setelah laporannya selesai, sehingga mereka punya pengalaman presentasi di depan ahli yang belum mereka kenal,” ujar Widya.
Kampus 2 ITN Malang dinilai representatif untuk pembelajaran, dengan fasilitas gedung, jalan, lapangan, tanah kosong, dan naungan pohon yang menantang. Proyek ini akan menghasilkan produk akhir berupa foto udara, peta topografi, hingga peta 3D modeling Kampus 2 ITN Malang yang sangat rinci.
Bagi para siswa, tantangan praktik di Kampus 2 ITN melampaui apa yang biasa mereka jalani di sekolah. Jika dulu berurusan dengan lahan sempit, kini mereka harus menguasai area seluas 10 hektar. Amelia Susanti, yang memegang alat Total Station, mengakui tingkat ketelitian yang tinggi diperlukan.
“Kalau koreksi datanya tidak masuk, kami harus mengulang lagi pengukurannya dari awal. Cuaca pun bisa mengganggu pengambilan data,” katanya.

Project Manager Salma Awanis menambahkan bahwa kendala teknis bukan satu-satunya ujian.
“Tantangan terbesar justru berasal dari dinamika antarsiswa. Kami perlu evaluasi harian untuk mencari solusi jika progres macet agar tim tetap berjalan,” ungkapnya.
Meskipun terik matahari menyapa dan kadang hujan mengguyur, semangat anggota tim KKN (Maya, Azril, Silvi, dan lain-lain) tetap tinggi. Suasana pengambilan data di ITN terasa menyenangkan, berkat kenyamanan kampus yang sejuk dan fasilitas laboratorium yang memadai.
Kolaborasi ini lebih dari sekadar praktik lapangan; ia merupakan pemanasan bagi para siswa sebelum terjun ke dunia kerja nyata. Dengan fasilitas laboratorium mutakhir dan kurikulum yang terus mengikuti perkembangan teknologi, Teknik Geodesi ITN Malang menegaskan posisinya sebagai rumah bagi lulusan SMK yang siap berkarier profesional di industri pemetaan global. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




