MALANG POST – Sepanjang 2025, bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Malang, didominasi tanah longsor. Dengan daerah rawan seperti lereng Gunung Bromo-Poncokusumo, Pujon, Ngantang dan Kasembon.
Khusus untuk Poncokusumo, ketika hujan terjadi lebih dari 4 jam, potensi tanah longsor menjadi besar. Selain longsor potensi bencana terbesar angin kencang.
Penegasan itu disampaikan Kalaksa BPBD Kabupaten Malang, Purwoto, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Selasa (27/1/2026).
“Untuk awal Januari ini saja, ada 45 bencana. Sedangkan pada 2024 total kejadian sebanyak 230 bencana. Tahun 2025 total terjadi bencana sebanyak 436,” jelasnya.
Ditambahkan, bencana yang masih berpotensi terjadi beragam. Mulai dari longsor, banjir, puting beliung, banjir rob, sampai bencana vulkanologi daerah dekat Gunung Kelud dan Gunung Semeru.
Purwoto menambahkan, data dari provinsi Jawa Timur, daerah yang paling banyak terjadi bencana dan rawan, posisi pertama daerah Pacitan. Nomor kedua daerah Trenggalek dan nomor tiga ada Kabupaten Malang.
Sementara itu, Sekretaris MLHPB PDM Kota Malang dan Dosen Fikes Universitas Brawijaya, Dr. Ns. Mukhamad Fathoni, S.Kep., MNS., menyampaikan, peran masyarakat penting untuk upaya mitigasi bencana.
“Ketika ada suatu daerah yang rawan longsor, masyarakat bisa melaporkan ke BPBD terkait. Sehingga langkah-langkah awal bisa segera dilakukan.”
“Dari badan yang ada di BPBD, juga bisa maksimalkan program program yang dimiliki,” katanya.
Sedangkan bencana terjadi di Indonesia sejak masuk bulan November 2025 sampai Januari 2026, sebutnya, karena adanya anomali cuaca yang memicu cuaca ekstrem.
“Yang perlu diingat dan sangat penting, bencana yang diakibatkan perilaku manusia. Seperti adanya deforestasi, alih fungsi lahan sampai persoalan urbanisasi.”
“Langkah responsif ketika terjadi bencana itu penting sekali, khususnya di daerah rawan di Malang Raya. Tentunya dengan melibatkan masyarakat sekitar. Tapi pencegahan juga tidak kalah penting,” tandasnya. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




