KOMPAK: Inisiator diskusi publik, Anas Muttaqin, bersama nara sumber dan peserta forum diskusi publik, yang digelar di Mifeeng Kopi Tiam, Kota Malang, Minggu (25/1/2026) malam. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama (31 Januari 1926 – 31 Januari 2026), bukan sekadar tentang kebesaran perjalanan sejarah. Tetapi justru menjadi titik tolak, untuk berani menata ulang arah pergerakan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.
Salah satunya lewat forum diskusi publik, untuk bisa menjadi ruang bagi generasi muda, agar bisa melihat NU dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan hanya sebagai organisasi struktural. Tapi sebagai gerakan yang dibentuk oleh gagasan-gasasan dan keberanian mengambil sikap dari para tokohnya, dalam berbagai fase sejarah Republik Indonesia.
“Jadi kalau mau menjawab: mau kemana generasi muda NU? Kita harus siap dengan tiga agenda besar, yang harus terus diperjuangan NU. Organisasi ini harus berani melakukan reorientasi, refleksi ulang arah gerakan dan regenerasi kepemimpinan.”
“Apalagi dalam perspektif ekonomi politik, NU adalah organisasi dengan potensi yang nyaris tak tertandingi di Indonesia. Jaringan lembaganya luas, basis massanya besar dan pengaruh sosialnya merata hingga ke pelosok desa.”
Penegasan itu disampaikan Dr. Muzakki, pengamat sosial politik dari Universitas Brawijaya. Ketika berbicara dalam diskusi publik yang digelar Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya, di Mifeeng Kopi Tiam, Kota Malang, Minggu (25/1/2026) malam.
Momen yang digunakan sebagai Refleksi Satu Abad NU tersebut. Mengambil tema: Quo Vadis Generasi Muda NU?
Dalam kesempatan tersebut, Muzakki juga menyoroti potensi demografi NU yang sangat besar. Dari 70 persen penduduk Indonesia, berada pada usia produktif. Mayoritas justru didominasi generasi Z dan milenial, yang menjadi bagian dari keluarga besar NU.
“Potensi ini, harus terus dibicarakan dan dipikirkan secara serius. Karena mereka akan menentukan wajah NU ke depan. Dan inilah yang harus kita diskusikan terus-menerus,” ujar mantan wartawan ini.
Hanya saja, tegas Muzakki, NU tidak bisa hanya menggantungkan harapan pada pendidikan formal, untuk melahirkan kader masa depan. Disrupsi teknologi berbasis internet, telah mengubah cara generasi muda belajar, bekerja dan berorganisasi.
“Perubahan itu ikut menggeser orientasi anak muda NU. Dari dunia informal dan nonformal ke sektor formal. Seperti birokrasi dan institusi negara.”
“Jadi tidak masalah kader-kader NU menjadi diaspora di berbagai bidang. Karena NU ini memang harus menjadi rumah besar bagi siapapun juga,” lanjutnya.

KUPAS TUNTAS: Dr. Muzakki, ketika memberikan paparan terkait kondisi generasi muda NU saat ini, dalam diskusi publik yang digelar Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Selain Dr Muzakki, diskusi publik tersebut juga menghadirkan penulis buku Napak Tilas Menjelang Satu Abad NU, Fauzan Alfas; Sekretaris PCNU Kota Batu, Gus Fathul Yasin, dengan moderator Yatimul Ainun, Pemimpin Redaksi Times Indonesia.
Sementara itu, inisiator Diskusi Publik Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya, Anas Muttaqin, menjelaskan, forum yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, sengaja disiapkan menjadi ruang kultural, yang mempertemukan generasi muda NU dari berbagai latar belakang, dengan tokoh-tokoh NU di Malang Raya, tanpa ada sekat struktural organisasi.
“Namanya forum kultural. Jadi tidak ada ketua, tidak ada anggota, tidak ada senior atau yunior. Semuanya setara.”
“Kami hanya ingin menyediakan ruang diskusi bagi anak-anak muda NU, yang selama ini sudah berkiprah di banyak sektor. Mulai dari aktivis organisasi, jurnalis, akademisi, politisi hingga birokrasi,” ujar politisi PKB ini.
Terlebih-lebih, sebut Ketua Komisi C DPRD Kota Malang ini, keragaman latar belakang pemuda Nahdliyin itu, justru menjadi kekuatan untuk memperkaya perspektif dalam membaca masa depan NU. Sebab mereka juga aktif di politik, media, pemerintahan dan dunia pendidikan.
Itulah sebabnya, alumni Magister Universitas Brawijaya ini menegaskan, ruang diskusi publik yang digagasnya, tidak hanya dimaksudkan sebagai peringatan simbolik satu abad NU. Melainkan juga sebagai momentum evaluasi arah gerak generasi muda ke depan. Sekaligus ruang refleksi pemuda Nahdliyin, agar tetap punya kompas moral dan ideologis sebagai kader NU.
“Generasi muda NU itu butuh ruang dialog yang jujur, terbuka dan tanpa sekat. Agar mereka tidak tercerabut dari akar kultural dan tradisi pesantren.”
“Kita butuh masukan, kritik dan gagasan segar, tentang bagaimana seharusnya generasi NU melangkah ke depan. Dengan tetap menjadi generasi muda yang modern, tapi tidak kehilangan identitas,” sebut politisi PKB ini. (Ra Indrata)




