MALANG POST – Lanskap ketenagakerjaan di Indonesia terus bergeser sepanjang 2025 kemarin. Fenomena itu juga terasa nyata di Kota Batu. Jika sebelumnya komposisi tenaga kerja formal dan informal relatif berimbang, kini peta pasar kerja Kota Apel berubah. Sektor informal justru tampil dominan.
Data terbaru menunjukkan, lebih dari separuh penduduk Kota Batu yang bekerja kini menggantungkan hidup pada sektor non-formal. Mulai pelaku UMKM mandiri, pekerja lepas (freelancer), hingga jasa-jasa berbasis usaha sendiri.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto mengungkapkan, bahwa porsi pekerja informal telah menyentuh angka 52,31 persen. Artinya, mayoritas tenaga kerja di Kota Batu tidak lagi bergantung pada perusahaan atau lembaga formal.
“Kalau kita lihat dari sisi positif, ini menunjukkan masyarakat tidak hanya menunggu lapangan kerja dari perusahaan besar. Mereka mampu menciptakan usaha dan pekerjaan sendiri,” ujar Heli, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu per Agustus 2025, jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal tercatat sebanyak 65.550 orang atau 47,69 persen. Sementara yang bekerja di sektor informal mencapai 71.912 orang atau 52,31 persen.
Angka ini mengalami pergeseran dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Proporsi penduduk yang bekerja di sektor formal turun 2,76 persen poin dibanding Agustus 2024. Penurunan tersebut seiring dengan berkurangnya jumlah buruh, karyawan, pegawai, serta pelaku usaha yang dibantu buruh tetap atau dibayar.
Heli menjelaskan, kenaikan sektor informal mencakup masyarakat dengan status berusaha sendiri, pekerja bebas, hingga pekerja keluarga di sektor pertanian. Perubahan ini tak lepas dari adaptasi pasar kerja terhadap pola kerja baru, serta terbatasnya lapangan kerja formal di Kota Batu.

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Lapangan kerja formal kita memang tidak terlalu besar. Maka sektor informal menjadi penyangga utama,” jelasnya.
Heli menilai kondisi tingginya pekerja informal memunculkan dua sisi yang harus dibaca secara bersamaan. Di satu sisi, sektor informal menjadi penyelamat stabilitas ketenagakerjaan. Masyarakat tetap bekerja meski tanpa ikatan perusahaan.
Namun di sisi lain, dominasi sektor informal juga menjadi tantangan tersendiri, terutama terkait perlindungan sosial dan keberlanjutan pendapatan. Terlebih di Kota Batu, geliat ekonomi informal sangat bergantung pada sektor pariwisata.
“Wisata desa dan destinasi lokal yang mulai diandalkan sangat bergantung pada kunjungan. Kalau wisata turun, sektor informal ikut terdampak,” ujar Heli
Sebagai kota tujuan wisata domestik, Kota Batu kerap menjadi lokasi rapat, agenda khusus, hingga kunjungan instansi dari berbagai daerah. Aktivitas ini memberi efek berantai pada ekonomi lokal.
“Konsumsi tamu rakor itu belanjanya di lokal. Uangnya muter di pasar, ke petani, ke pedagang. Itulah yang menggerakkan sektor informal,” imbuhnya.
Perputaran ekonomi di tingkat bawah inilah yang mendorong semakin banyak warga Kota Batu memilih bekerja secara mandiri. Geliat sektor informal pun kian terasa, seiring meningkatnya minat masyarakat untuk terjun ke usaha sendiri.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, sektor informal terbukti menjadi bantalan ekonomi. Namun di sisi lain, perlu kebijakan yang mampu memperkuat perlindungan, keberlanjutan usaha, dan peningkatan kualitas tenaga kerja agar sektor ini tidak hanya tumbuh, tetapi juga tangguh. (Ananto Wibowo)




