MALANG POST – Jalur alternatif Klemuk atau Jalan Rajekwesi Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, selama ini menjadi pilihan favorit pengendara. Jalur penghubung Kota Batu dengan Pujon, Kabupaten Malang itu dapat mempersingkat waktu tempuh lebih cepat dibanding rute utama.
Namun di balik kepraktisannya, Jalur Klemuk menyimpan risiko tinggi. Kontur jalan yang menurun tajam dan curam kerap memicu kecelakaan, terutama akibat kegagalan sistem pengereman atau rem blong. Pengendara dituntut ekstra waspada. Sedikit lengah, potensi celaka mengintai.
Melihat kondisi tersebut, Pemkot Batu telah mengambil langkah tegas. Jalur Klemuk ditutup sementara hingga 31 Januari 2026. Penutupan ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh sekaligus respons cepat untuk melindungi keselamatan pengguna jalan.
“Penutupan ini bukan tanpa alasan. Jalur Klemuk memiliki tingkat kerawanan tinggi. Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi peristiwa yang lebih besar,” tegas Wali Kota Batu, Nurochman, Minggu (25/1/2026).
Hasil kajian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu menunjukkan bahwa permasalahan utama terletak pada alignment vertikal jalan yang terlalu curam. Kondisi tersebut memaksa pengendara melakukan pengereman panjang dan terus-menerus sejak pintu masuk jalur, hingga akhirnya memicu rem blong.

CEK JALUR: Wali Kota Batu, Nurochman bersama jajaran stakeholder terkait saat melakukan pengecekan di Jalur Klemuk. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sebagai solusi jangka menengah hingga panjang, DPUPR Kota Batu merencanakan pembangunan trase jalan berkelok. Desain ini bertujuan menurunkan tingkat kecuraman sekaligus mengurangi beban pengereman kendaraan.
“Dengan trase berkelok, kemiringan jalan bisa dikurangi. Pengendara tidak perlu lagi melakukan pengereman panjang atau terus-menerus,” jelas Cak Nur.
Trase sendiri merupakan desain jalan berliku yang dirancang untuk menyesuaikan kontur alam. Selain meningkatkan keselamatan, sistem ini juga memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna, khususnya pada jalur satu arah menurun seperti Jalur Klemuk.
Menurut Cak Nur, pembangunan trase berkelok merupakan kebutuhan mendesak. Pemkot Batu memilih bertindak preventif demi mencegah jatuhnya korban akibat kecelakaan lalu lintas.
“Selama ini kecelakaan di Jalur Klemuk didominasi kasus rem blong. Itu terjadi karena pengereman yang dilakukan terus-menerus dari atas. Maka solusinya bukan hanya rambu atau imbauan, tapi penataan ulang trase jalan,” tegasnya.
Saat ini, DPUPR Kota Batu tengah berkoordinasi dengan Perhutani selaku pengelola kawasan hutan di sekitar Jalur Klemuk. Koordinasi ini penting mengingat rencana penataan akan menyentuh kawasan dengan status tertentu.
Ke depan, penataan Jalur Klemuk tidak hanya fokus pada trase berkelok, tetapi juga mengombinasikan alignment vertikal dan horizontal secara menyeluruh. Penyesuaian ini diyakini mampu menekan tingkat kecuraman dan meningkatkan faktor keselamatan.
Meski demikian, Pemkot Batu menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur saja tidak cukup. Keselamatan berlalu lintas juga sangat bergantung pada kedisiplinan pengendara.
“Infrastruktur kami benahi, tapi kesadaran masyarakat juga harus berjalan seiring. Tertib berlalu lintas tetap kunci utama keselamatan,” pungkas Cak Nur. (Ananto Wibowo)




