DI BENCH: Kuncoro saat menjadi karteker pelatih Arema di Liga 1 musim 2024/2025 lalu. Berdampingan dengan Wibie Dwi Andrias dan Siswantoro. (Foto: Cak Taufik/Arema Official)
MALANG POST – Sejak Liga 1 musim 2011/2012 hingga Super League 2025/2026, sudah 18 pelatih membesut Arema FC. Pelatih yang lebih dari sekali memimpin skuad, dihitung satu.
Setiap pelatih yang datang, pasti membawa asisten. Biasanya berasal dari negara yang sama. Ditambah asisten pelatih lokal, yang biasanya ditawarkan manajemen. Meski belum tentu dipakai head coach.
Hanya ada satu nama asisten pelatih lokal, yang terus dipakai sejak musim 2011 hingga akhir putaran pertama Super League musim ini. Namanya: Kuncoro.
Siapapun pelatihnya, baik lokal maupun asing, Kuncoro tetap mendampingi. Pertama di musim 2011, ketika Arema yang bermain di Indonesia Super League (ISL), dilatih Wolfgang Pikal. Hingga musim ini saat Marcos Santos membesut Arema.
Salah satu yang paling mencolok dari keberadaan Kuncoro, adalah kemampuannya mempertahankan ciri khas permainan Singo Edan. Karakter itu, selalu ditanamkan kepada pemain Arema. Agar bisa mewarnai karakter permainan yang dibawa pelatih-pelatih Arema.
Sayangnya sepeninggal Kuncoro, yang berpulang pada Minggu (18/1/2026) lalu karena kolaps di Stadion Gajayana, Manajemen Arema FC belum berencana mencari pengganti mantan pemain Timnas Indonesia ini.
General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi berkilah, belum ada sosok yang bisa menggantikan peran Kuncoro di dalam tim.
“Coach Kuncoro pasti tidak tergantikan. Tapi selama ini kan kita sudah tahu, bagaimana cara bermain dan karakter Arema seperti yang sudah ditularkan beliau.”
“Apalagi ada beberapa pemain, yang gaya permainannya sudah sesuai dengan karakter tersebut,” sebut Inal, sapaan akrab GM Arema kelahiran Bogor ini.
Dalam skuad Arema saat ini, tercatat hanya dua pemain yang keberadaannya di Arema, sejak Kuncoro menjadi asisten pelatih untuk kali pertama. Dendi Santoso dan Johan Ahmat Farizi. Keduanya juga sama-sama pemain asli Malang.
Selebihnya adalah pemain-pemain yang datang silih berganti. Baik pemain kelahiran Malang, maupun pemain lokal dan asing lainnya.
Sayangnya di bawah kepelatihan Marcos Santos, pelatih asal Brasil itu tidak akan melihat asal pemain, saat menyusun komposisi pemain yang masuk dalam daftar susunan pemain.
Pelatih berlisensi Pro Conmebol itu, hanya akan menurunkan pemain yang dinilai benar-benar siap tempur dengan mengandalkan 100 persen kemampuan yang dimiliki.
“Saya tidak melihat darimana pemain itu berasal. Baik itu pemain lokal maupun asing. Selama pemain itu bermain bagus dan punya persiapan bagus, dia pasti akan saya pakai,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Terbukti, saat Arema mengalahkan Persik Kediri, di pekan ke-17 di Stadion Kanjuruhan, tak ada satu pun pemain asli Malang, yang diturunkan dalam starting eleven.
Baru di menit ke-79, Dedik Setiawan masuk menggantikan Dalberto Luan Belo. Dan menjadi satu-satunya pemain asli Malang yang ada di lapangan hingga laga usai.
Meski tidak mencetak gol, tapi masuknya Dedik, ikut mengubah gaya permainan Arema. Bahkan Dedik ikut berperan dalam mengubah hasil permainan. Dari awalnya tertinggal 0-1 menjadi unggul 2-1.
Sontekannya di menit ke-90+5 memanfaatkan umpan Matheus Blade, menjadi bola liar yang menyebabkan Supriadi melakukan gol bunuh diri. (Ra Indrata)




