MALANG POST – Kualitas pendidikan di Kota Batu masih menghadapi tantangan serius. Data terbaru menunjukkan, rata-rata penduduk Kota Batu hanya menempuh pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), RLS Kota Batu pada 2023 berada di angka 9,85 tahun. Angka tersebut hanya naik tipis 0,02 tahun menjadi 9,87 tahun pada 2024. Kondisi ini berbeda dengan capaian pada periode 2022 ke 2023, ketika RLS melonjak cukup signifikan dari 9,63 tahun menjadi 9,85 tahun atau tumbuh 0,22 tahun.
Meski sempat melambat, tren pendidikan di Kota Batu kembali menunjukkan perbaikan. Pada 2025, RLS penduduk usia 25 tahun ke atas tercatat sebesar 9,95 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Kota Batu kini hampir menyentuh jenjang pendidikan setara kelas IX SMP.
Capaian tersebut terbilang lebih baik dibanding rata-rata Provinsi Jawa Timur yang hanya sebesar 8,39 tahun pada 2025. Bahkan, RLS Kota Batu juga melampaui angka nasional yang berada di level 9,07 tahun.
Secara tahunan, RLS Kota Batu meningkat 0,08 tahun atau setara 0,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam rentang lima tahun terakhir, kenaikan RLS mencapai 0,88 tahun atau sekitar 9,7 persen.
Di antara 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, posisi Kota Batu berada di peringkat ke-10. Daerah dengan RLS tertinggi masih ditempati Kota Madiun yang mencapai 12,12 tahun. Sementara itu, RLS terendah berada di Kabupaten Sampang dengan hanya 5,19 tahun.
Angka RLS tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar warga Kota Batu masih berhenti sekolah di jenjang SMP. Namun, harapan ke depan dinilai cukup besar. Hal itu tercermin dari angka harapan lama sekolah (HLS) Kota Batu yang hingga akhir 2024 telah mencapai 14,58 tahun atau setara jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Wali Kota Batu, Nurochman menyebut peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu fokus utama pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2030. Pemkot Batu memasang target ambisius, RLS meningkat hingga 13 tahun.

SAPA PELAJAR: Wali Kota Batu, Nurochman saat menyapa para pelajar di Kota Batu sekaligus mempromosikan program 1.000 Sarjana. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Target ini akan kami capai melalui penguatan program wajib belajar, peningkatan kualitas pendidikan, serta perluasan akses pendidikan tinggi,” ujar Cak Nur sapaan Nurochman, Senin (19/1/2026).
Salah satu program unggulan yang terus diperkuat adalah Program 1.000 Sarjana. Program ini diarahkan untuk meningkatkan daya saing lulusan Kota Batu agar lebih siap memasuki pasar kerja.
“Kami juga akan memfasilitasi rekomendasi dan arah karier bagi lulusan sekolah melalui kerja sama dengan dunia usaha dan industri,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, M. Chori mengakui, bahwa RLS Kota Batu memang masih berada di level SMP. Namun, berbagai langkah strategis telah dan terus dilakukan untuk mendorong warga melanjutkan pendidikan hingga jenjang lebih tinggi.
Upaya tersebut antara lain penguatan program wajib belajar 12 tahun, penyelenggaraan sekolah gratis di seluruh sekolah negeri, serta penyediaan beasiswa bagi siswa dari keluarga tidak mampu namun memiliki kemauan kuat untuk melanjutkan pendidikan.
“Faktor putus sekolah itu beragam, mulai ekonomi hingga sosial. Semua sekolah negeri di Kota Batu sudah gratis. Kami juga menyediakan beasiswa dan PKBM gratis,” jelas Chori.
Tak hanya itu, Pemkot Batu juga menyediakan layanan angkutan pelajar gratis. Program ini ditujukan untuk mengatasi kendala jarak tempuh sekolah sekaligus meringankan beban biaya orang tua.
“Dengan fasilitas ini, tidak ada lagi alasan kesulitan menjangkau sekolah karena jarak. Kami optimistis berbagai program ini mampu menekan angka ATS atau anak tidak sekolah di Kota Batu,” tegasnya.
Dengan sederet kebijakan dan program tersebut, ia berharap tidak hanya mencatat kenaikan angka statistik, tetapi juga menciptakan sumber daya manusia yang lebih unggul dan berdaya saing di masa depan. (Ananto Wibowo)




