MALANG POST – Penataan kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat) Kota Malang, ditujukan untuk mengatasi banjir sekaligus mewujudkan lingkungan yang ramah pejalan kaki.
Kawasan ini juga diproyeksikan sebagai ruang publik dan pusat aktivitas ekonomi, yang didominasi mahasiswa dan pelaku usaha.
Ahli Pertama Teknik Tata Bangunan dan Perumahan DPUPRPKP Kota Malang, Gresya Cicin Carola, menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Senin (19/1/2026).
Menurut Gresya, Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan RTBL Kota Malang, akan menjadi acuan utama dalam membentuk wajah kawasan Suhat.
“Dalam rencana itu, juga disiapkan titik parkir khusus seperti di kawasan Kayutangan yang akan dikoordinasikan lebih lanjut,” tambahnya.
Pendanaan penataan kawasan ini, ujar Gresya, melibatkan PU SDA Provinsi Jawa Timur dan tidak menutup peluang dukungan dari program CSR.
Pemkot berharap penataan ini mampu meningkatkan citra kawasan sekaligus daya saing Kota Malang.
Karenanya, setelah rampungnya proyek drainase Suhat yang dikerjakan PU SDA Provinsi Jawa Timur, selanjutnya penataan difokuskan pada perbaikan pedestrian dan penguatan fungsi koridor sebagai kawasan publik dan ekonomi.
“Pemkot telah menyusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan atau RTBL Koridor Suhat pada 2025.”
“Dalam RTBL itu, kawasan Suhat dibagi menjadi tiga segmen dengan karakter campuran hunian dan usaha,” tegasnya.
Pelaksanaan awal penataan pedestrian, tambah Gresya, direncanakan dimulai setelah Lebaran. Sedang pengerjaan trotoar menyeluruh dijadwalkan pada 2026 oleh PU SDA Provinsi Jawa Timur.
“Penataan kawasan Suhat ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas lingkungan, aksesibilitas / dan citra Kota Malang,” sebutnya.
Sementara itu, akademisi Program Studi Arsitektur Unmer Malang yang mendalami aspek Perencananaan dan Perancangan Arsitektur Kota Universitas Merdeka Malang, Prof. Ir. Respati Wikantiyoso., MSA., Ph.D., menilai, rencana penataan Suhat memiliki konsep yang baik dan komprehensif.
Dia menyebut, rencana tersebut menumbuhkan harapan besar agar Suhat benar-benar menjadi koridor kota yang “mbois”.
Namun menurutnya, penataan kawasan harus didukung koordinasi kuat antara PU SDA Provinsi Jawa Timur dan DPUPRPKP Kota Malang.
“Integrasi perencanaan menjadi penting agar penataan tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga meningkatkan kualitas aksesibilitas dan aktivitas publik,” kata Prof. Respati.
Pihaknya menekankan perlunya uji publik dan survei pendalaman sebelum implementasi RTBL.
Hal ini penting agar desain kawasan benar-benar inklusif, adaptif terhadap aktivitas ekonomi, serta selaras dengan karakter sosial yang sudah tumbuh di Suhat. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)
*Sumber : CITY GUIDE FM*




