MALANG POST – Animo wisata di Kota Batu sepanjang 2025 tak segairah tahun sebelumnya. Kota yang selama ini dikenal sebagai magnet wisata Jawa Timur itu harus menerima kenyataan, jumlah kunjungan wisatawan menurun cukup signifikan.
Jika pada 2024 lalu angka kunjungan mampu menembus sekitar 11.005.189 kunjungan wisatawan dengan rincian 2.475.544 kunjungan ke akomodasi, 8.288.440 kunjungan ke daya tarik wisata dan 241.205 kunjungan pada berbagai event.
Sedangkan sepanjang 2025 kemarin jumlahnya diperkirakan hanya berkisar 8,5 juta orang wisatawan. Artinya, Kota Batu kehilangan sekitar 2,5 juta wisatawan dalam setahun.
Penurunan tersebut tidak hanya tercermin dari data makro, tetapi juga dirasakan langsung oleh pelaku industri pariwisata. Sejumlah destinasi utama, mulai dari taman rekreasi hingga akomodasi, ikut terdampak.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Onny Ardianto membenarkan adanya penurunan jumlah kunjungan wisatawan sepanjang 2025. Meski begitu, ia menyampaikan bahwa data kunjungan masih dalam tahap finalisasi.
“Untuk kunjungan wisatawan tahun 2025 masih kami finalisasi karena ada tambahan data dari Alun-Alun. Kami ingin angkanya mendekati valid,” ujar Onny, Minggu (18/1/2026).
Berdasarkan data sementara Disparta, jumlah kunjungan wisatawan yang tercatat hingga akhir 2025 baru mencapai 7.579.744 orang. Angka tersebut mayoritas berasal dari sektor akomodasi hotel.

MENURUN: Angka kunjungan wisatawan ke Kota Batu sepanjang 2025 menurun dibandingkan dengan tahun 2024 lalu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Angka 7,5 juta itu bersumber dari sektor akomodasi hotel. Kalau ditambah vila, guest house, kafe, restoran, serta kunjungan ke Alun-alun, jumlahnya sekitar 900 ribu wisatawan,” jelasnya.
Dengan tambahan tersebut, total kunjungan wisatawan sepanjang 2025 diperkirakan hanya menembus angka 8 juta hingga 8,5 juta kunjungan. Capaian ini masih terpaut cukup jauh dibandingkan tahun 2024 yang berhasil mencapai 11 juta wisatawan.
Onny menyebut, ada sejumlah faktor yang memengaruhi turunnya jumlah wisatawan ke Kota Batu. Salah satu faktor utama adalah kondisi perekonomian nasional yang belum sepenuhnya pulih, sehingga berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
“Selain faktor ekonomi, kondisi cuaca yang tidak menentu serta adanya bencana di beberapa daerah juga ikut memengaruhi minat masyarakat untuk berwisata,” ungkapnya.
Dampak penurunan itu juga terlihat dari tingkat hunian hotel di Kota Batu sepanjang 2025. Okupansi belum mampu mencapai kondisi ideal. “Hunian hotel belum bisa mencapai 100 persen seperti tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.
Penurunan jumlah wisatawan itu turut dibenarkan oleh pengelola destinasi wisata di Kota Batu. Jatimpark Group, sebagai salah satu ikon wisata kota apel, mencatat adanya penurunan kunjungan sepanjang 2025.
Manager Marketing and Public Relations Jatim Park Group, Titik S Ariyanto menyebut penurunan paling terasa terjadi pada Agustus 2025, dengan penurunan kunjungan mencapai 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski begitu, kondisi mulai membaik menjelang akhir tahun.
“Kalau di kami, total kunjungan sepanjang 2025 sekitar 4,9 juta wisatawan. Padahal pada 2024 bisa mencapai lebih dari 5,3 juta wisatawan,” bebernya.
Secara persentase, penurunan kunjungan di Jatimpark Group mencapai sekitar 7,5 persen dibandingkan tahun 2024. Meski tidak tergolong drastis, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian serius, mengingat Kota Batu selama ini identik dengan sektor pariwisata.
“Ini tidak bisa dianggap sepele karena Batu adalah kota wisata,” tegasnya.
Hal serupa juga dialami Taman Wisata Selecta. Destinasi legendaris tersebut mencatat penurunan kunjungan yang cukup tajam sepanjang 2025. Direktur Utama PT Selecta, Sujud Hariadi, menyebut jumlah kunjungan wisatawan ke Selecta pada 2025 hanya mencapai 487.582 orang. Angka itu turun jauh dibandingkan 2024 yang mampu meraih 715.709 wisatawan.
“Tahun ini penurunan jumlah wisatawan mencapai 42 persen dibandingkan tahun lalu. Penurunannya memang cukup signifikan,” paparnya.
Penurunan kunjungan wisatawan ini menjadi sinyal penting bagi Kota Batu untuk melakukan evaluasi dan inovasi sektor pariwisata. Di tengah tantangan ekonomi dan iklim yang tak menentu, daya tarik wisata Kota Batu dituntut tetap adaptif agar kembali menjadi pilihan utama wisatawan. (Ananto Wibowo)




