MALANG POST – Pada liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) kemarin, terjadi penurunan kunjungan wisatawan ke Kota Batu. Dua faktor menjadi penyebabnya. Kondisi cuaca yang kurang mendukung membuat masyarakat enggan datang dan akibat daya beli yang menurun.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto menyampaikan kondisi tersebut, ketika menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Rabu (14/1/2026).
Selain itu, tambahnya, dominan wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu, memilih untuk tidak bermalam di Kota Batu. Sehingga okupansi hotel dan villa sangat terasa penurunannya. Meski ada beberapa villa dan hotel primadona yang masih ramai.
“Meskipun ada penurunan kunjungan, beberapa tempat wisata masih ramai saat masuk momen Nataru. Seperti Jatim Park, Selecta dan Coban Rais,” katanya.
Adanya penurunan jumlah wisatawan tersebut, juga diakui Marketing and PR Manajer Jatimpark Group, Titik Ariyanto.
Kata Titik, pada tahun 2025 total kunjungan sebanyak 4,9 juta lebih. Sedangkan tahun 2024 bisa mencapai 5,3 juta lebih. Penurunan kunjungan mencapai 6,19 persen.
“Pada Januari sampai Agustus 2025 lalu, sempat terjadi penurunan kunjungan sampai 25 persen. Tapi akhirnya bisa mengejar, meskipun masih belum sesuai target,” tegasnya.
Ditambahkan, kunjungan wisata yang turun akibat kondisi cuaca ekstrem, kondisi perekonomian yang kurang baik dan beberapa isu kurang baik yang beredar.
Sedangkan Ketua Forum Desa Wisata (FORDEWI) Kota Batu, Muhammad Dadi menyebut, saat ini terjadi perubahan perilaku wisatawan. Sebagai akibat beberapa isu yang beredar. Seperti parkir liar, sampai pemesanan vila fiktif via online.
“Banyak wisatawan juga tertarik dengan wisata alam yang juga menyuguhkan atraksi. Seperti di Tulungrejo sedang ramai fun jeep off road, yang digelar malam hari. Meskipun kondisi sering hujan, banyak masyarakat yang tertarik,” katanya.
Dadi menambahkan, di lereng Gunung Arjuna juga ada warung sederhana tapi banyak yang mengunjungi, untuk menikmati suasana asrinya.
Sementara itu, akademisi Bidang Pengelolaan dan Strategi Pemasaran UNMER Malang, Prof Widji Astuti menyampaikan, untuk bisa membuat wisatawan berlama-lama di suatu wilayah, harus beragam wisatawan yang bisa disuguhkan.
“Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu, harus saling sinergi untuk mewujudkan wisata yang banyak dan beragam.”
“Kota Batu dengan wisata buatan dan alamnya. Kabupaten Malang dengan beragam pantainya dan Kota Malang dengan kampung-kampung tematiknya. Karena akan banyak efek yang dirasakan jika tiga wilayah ini mampu bersinergi dengan baik,” tegas Prof. Widji. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




