MALANG POST – Tren angka kemiskinan di Kota Batu menunjukkan grafik yang kian menurun. Pada 2025, persentase penduduk miskin tercatat berada di angka 2,86 persen, terendah dalam tiga tahun terakhir. Meski demikian, penurunan itu belum sepenuhnya menyingkirkan bayang-bayang kemiskinan.
Masih ada sekitar 6.220 jiwa warga yang bertahan di status prasejahtera atau kelompok rentan yang sewaktu-waktu bisa kembali tergelincir ke jurang kemiskinan.
Meski begitu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat, angka kemiskinan tersebut turun cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pada 2024, persentase kemiskinan berada di angka 3,31 persen, lalu menyusut 0,45 persen menjadi 2,86 persen di 2025. Seiring dengan itu, jumlah penduduk miskin secara absolut juga ikut berkurang.
Kepala BPS Kota Batu, Sayu Made Widiari menjelaskan, bahwa penurunan persentase tersebut tetap harus dibaca bersamaan dengan indikator lain, terutama garis kemiskinan yang terus mengalami kenaikan setiap tahun.
“Pada 2025, garis kemiskinan Kota Batu berada di angka Rp671,2 ribu per kapita per bulan. Artinya, warga dengan pengeluaran di bawah angka tersebut masuk kategori miskin,” jelas Sayu.
Penentuan garis kemiskinan tersebut, lanjutnya, dihitung berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang memotret pola konsumsi masyarakat, baik untuk kebutuhan makanan maupun nonmakanan.
Kabar baik lainnya, Kota Batu juga berhasil menekan kemiskinan ekstrem hingga nol persen. Berdasarkan data Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), angka kemiskinan ekstrem yang sempat berada di 0,64 persen pada akhir 2023 berhasil dihapus dan bertahan di level nol hingga 2025.
Namun, capaian tersebut bukan berarti pekerjaan telah selesai. Pemerintah daerah justru dihadapkan pada tantangan baru, yakni menjaga agar ribuan warga prasejahtera tidak kembali jatuh ke kategori miskin, terlebih miskin ekstrem.
Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batu mengakui, memutus rantai kemiskinan bukan perkara sederhana. Faktor eksternal seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, keterbatasan akses pendidikan, hingga kondisi pasar kerja yang tidak stabil masih menjadi hambatan utama.

Ilustrasi penyaluran bansos di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial (Banjamsos) Dinsos Kota Batu, Wiwit Anandana menyebut bahwa pengangguran dan penghasilan yang fluktuatif menjadi pemicu utama mengapa ribuan warga masih tertahan di garis prasejahtera.
“Banyak warga yang pendapatannya tidak tetap. Hari ini bisa cukup, bulan depan belum tentu. Kondisi seperti ini sangat rentan,” ujarnya.
Belum lagi risiko bencana alam, musibah, atau kehilangan tulang punggung keluarga yang bisa datang tanpa peringatan. Faktor-faktor tersebut, menurut Wiwit, kerap menjadi penyebab warga yang sebelumnya mandiri kembali terpuruk secara ekonomi.
Ia mencontohkan lonjakan angka kemiskinan yang terjadi pada periode 2020–2021. Saat itu, persentase kemiskinan Kota Batu melonjak hingga 4,09 persen, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 8.630 orang. Penyebab utamanya tak lain adalah pandemi Covid-19 yang melumpuhkan sektor ekonomi dan pariwisata Kota Batu.
“Banyak orang kehilangan pekerjaan, usaha tutup, pendapatan anjlok. Dampaknya sangat terasa,” kenangnya.
Meski kini kondisi perlahan membaik, Wiwit menegaskan bahwa menjaga daya beli masyarakat tetap menjadi PR besar pemerintah daerah. Upaya pengentasan kemiskinan tidak bisa hanya bertumpu pada bantuan sosial semata, melainkan juga harus dibarengi dengan peningkatan produktivitas dan kemandirian warga.
“Ada faktor internal seperti rendahnya produktivitas, tapi ada juga faktor eksternal seperti harga kebutuhan yang terus naik, bencana, atau kematian tulang punggung keluarga,” paparnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan keluar dari garis kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah.
“Perlu andil masyarakat juga. Misalnya, meningkatkan produktivitas agar mampu mencukupi kebutuhan hidup dan tidak mudah kembali jatuh miskin,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




