MALANG POST – Dr. Tompi mengkritik langkah Pandji Pragiwaksono yang meroasting Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming saat penampilannya di Stand Up Comedy ‘Mens Rea’ beberapa waktu lalu. Pada penampilan tersebut, Pandji membahas keputusan publik yang memilih pemimpin berdasarkan paras, sebuah topik yang cukup sensitif dan sering memicu perdebatan tentang bagaimana citra fisik seorang tokoh publik bisa mempengaruhi penilaian publik terhadap kualitas kepemimpinan.
Pandji kemudian beralih pada sosok Wapres Gibran, yang dalam penuturannya disebut memiliki tampang seperti orang ngantuk. “Atau wakil presidennya, Gibran ngantuk ya. Salah nada, maaf. Gibran, ngantuk ya?” kata Pandji, yang disertai riuh tawa dari penonton.
Bentuk komentar seperti itu menimbulkan reaksi beragam di kalangan penonton dan pengamat, karena menyangkut pertanyaan etika seputar penghormatan terhadap pejabat negara dan batas lelucon yang pantas dalam konteks humor politik.
Pernyataan Pandji tersebut kemudian mendapat sorotan tajam dari Dr. Tompi, seorang dokter spesialis bedah plastik yang juga dikenal sebagai figur publik dengan pandangan kritis terhadap isu-isu sosial dan budaya populer.
Dr. Tompi menyatakan bahwa langkah Pandji meroasting kondisi fisik seseorang tidak tepat. Menurutnya, menertawakan kondisi fisik seseorang—apa pun konteksnya—bukanlah bentuk kritik yang cerdas, terlebih bila lelucon tersebut menyoroti ciri wajah atau ekspresi yang bisa diasosiasikan dengan kurangnya fokus, kelelahan, atau atribut fisik lainnya.
Dalam unggahannya pada Sabtu (3/1/2026), Dr. Tompi menegaskan pentingnya menjaga etika dalam berkomentar mengenai tokoh publik. Ia menilai bahwa guyonan yang berpusat pada “kondisi mata terlihat mengantuk” bisa dianggap sebagai bentuk stereotip atau penghakiman superficial yang tidak mencerminkan kapasitas kognitif atau integritas seseorang sebagai pemimpin.
Dr. Tompi menekankan bahwa humor yang sehat sebaiknya menghindari merendahkan atau menormalisasi penampilan fisik individu, apalagi jika itu berkaitan dengan atribut bawaan yang memang tidak bisa diubah.
Lebih lanjut, Dr. Tompi menyoroti bahwa lelucon semacam itu berpotensi memperkuat narasi yang salah tentang “kesiapan” seorang pemimpin hanya berlandaskan bagaimana ia terlihat di mata publik. Ia mengajak para pelaku seni peran, komedi, maupun opini publik untuk lebih bertanggung jawab dalam menyikapi isu-isu politik melalui humor yang tidak memojokkan identitas fisik seseorang, melainkan mengedepankan kritik terhadap kebijakan, tindakan, atau performa publik figur secara substansial dan relevan.
Kendati demikian, pandangan Dr. Tompi juga menimbulkan diskusi luas di komunitas warganet dan pecinta stand-up comedy. Ada yang berpendapat bahwa humor politik merupakan bagian dari hak kebebasan berpendapat dan ekspresi kreatif, asalkan tidak menyinggung identitas pribadi secara berlebihan.
Sementara yang lain percaya bahwa batas antara kritik politik dan serangan personal bisa sangat tipis, sehingga perlu adanya kode etik yang lebih jelas dalam karya-karya komedi yang menyasar tokoh publik.
Dalam konteks yang lebih luas, perdebatan ini mencerminkan dinamika hubungan antara humor, kebebasan berekspresi, dan tanggung jawab sosial. Banyak pihak menilai bahwa kritik terhadap kebijakan publik sebaiknya fokus pada isu dan tindakan nyata, bukan menyeret ciri fisik atau atribut pribadi yang tidak terkait langsung dengan kapasitas kepemimpinan.
Di sisi lain, ada juga pandangan yang menekankan bahwa satir dan humor bisa menjadi alat penting untuk mengungkap ketimpangan, menguji akuntabilitas, serta mengingatkan publik akan realitas politik di mata publiken secara lebih ringan tetapi tetap bermakna.
Secara singkat, pandangan Dr. Tompi menekankan bahwa merendahkan penampilan fisik seseorang sebagai bagian dari kritik tidak hanya tidak elegan, tetapi juga kurang tepat secara etika. Humor politik idealnya mengarahkan kritik ke kebijakan dan performa publik figur, sambil menghormati martabat manusia dan menghindari stereotip yang merugikan.
Nama lengkap dr. Tompi sendiri adalah Teuku Adifitrian, seorang musisi jazz, penyanyi, produser, sutradara, sekaligus dokter spesialis bedah plastik ternama di Indonesia. Ia dikenal dengan julukan “Tompi” yang juga menjadi nama panggungnya, lahir di Lhokseumawe, Aceh, 22 September 1978. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




