MALANG POST – Perubahan tata guna lahan, deforestasi hingga degradasi lingkungan di hulu, menjadi penyebab timbulnya erosi tanah yang parah. Sehingga membuat tumpukan sedimen di aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan dan luapan air.
Ditambah peningkatan sedimen tanah dan lumpur yang diikuti dengan banyaknya sampah plastik dan rumput yang dibuang di sungai, sehingga terjadi pendangkalan dan air tidak tertampung di badan sungai.
Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas PUPR Kota Batu, Alfi Nurhidayat, saat menjadi narasumber talkshow di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (10/1/2026) kemarin.
Kata Alfi, banyak masyarakat yang menanami lahannya dengan vegetasi hortikultura dibanding tanaman tegakan, seperti kopi maupun kakao di daerah hulu. Menjadikan peningkatan aliran permukaan tidak terserap baik.
“Meskipun sudah dilakukan pengerukan dengan alat berat secara rutin di sejumlah sungai, namun pendangkalan terus terjadi secara cepat dan menimbulkan luapan.”
“Apalagi minimnya vegetasi tegakan di sepanjang sungai untuk mengikat tanah, membuat Daerah Aliran Sungai (DAS) sering terganggu,” sebutnya.
Karena itu, pihaknya telah mendapat arahan dari Walikota untuk melakukan pengkajian cepat dan analisis, melalui foto udara menggunakan di sepanjang aliran sungai Kota Batu dari hulu ke hilir.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, menambahkan, banjir lumpur di tiga desa di Kecamatan Bumiaji Kota Batu meliputi Desa Bumiaji, Bulukerto dan Sumbergondo, juga disebabkan karena adanya peningkatan sedimen tanah dan lumpur.
BPBD pun sudah berkoordinasi dengan PUPR Kota Batu, untuk melakukan pengkajian cepat dan melakukan pembersihan sungai, bersama relawan dan pihak desa setempat.
“Kami juga akan terus melakukan pemantauan tanaman tegakan di hulu sungai, untuk antisipasi luapan aliran sampai ke hilir. Serta melakukan mitigasi rutinan dengan pemetaan dan susur sungai,” katanya.
Selain itu, perwakilan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Tulungrejo Kota Batu, Prastyudi juga menekankan, pihaknya terus melakukan mitigasi dari hulu ke hilir melalui pembersihan sungai, serta berkoordinasi dengan PUPR dan BPBD Kota Batu.
Disisi lain, Prastyudi juga menegaskan , masyarakat sudah siap siaga dan tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana.
Sementara itu, Kepala Pusat Lingkungan Mitigasi dan Kebencanaan Universitas Negeri Malang, Dr. Heni Masruroh, S.Pd, M.Sc., melihat, seharusnya wilayah Kota Batu yang merupakan titik hulu Malang Raya tidak mengalami banjir.
Namun karena lemahnya daya dukung lingkungan imbas pengelolaan DAS yang tidak optimal, menjadikan Kota Batu diterjang banjir lumpur.
“Erosi erosi yang tinggi di bagian hulu imbas adanya perubahan tata guna lahan, dari tanaman tegakan menjadi tanaman hortikultura, mengubah fungsi lahan dan daya tampung air menjadi tidak maksimal. Sehingga terjadi pendangkalan yang cepat di bagian hilir sungai.
Heni menyarankan, agar segera dilakukan pengkajian cepat untuk menentukan penanganan pola ruang. Meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya, serta melakukan pemberdayaan kapasitas masyarakat dalam penanganan bencana.(Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




