MALANG POST – Perjalanan Jejak Kearifan dilakukan pegiat Amartya Bhumi Kepanjian di wilayah kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, sejak Sabtu (10/1/2026). Menjelajah dan menggali kesejarahan dan khazanah nilai keberagaman.
Selama kegiatan ini, tim Jejak Kearifan bertemu langsung sejumlah pewaris dan pelestari budaya tradisi di wilayah yang sarat keberagaman sosio-kultur dan budaya ini.
Jejak Kearifan di Donomulyo yang mengangkat tema “Menjelajah Histori dan Harmoni’ ini juga dihadiri Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sudarman, dan diikuti pemangku wilayah Kecamatan Donomulyo serta para tokoh masyarakat dan budayawan setempat.
Beberapa desa di Donomulyo Kabupaten Malang sempat dikunjungi tim Jejak Kearifan, diantaranya Desa Sumberoto, Desa Purworejo dan Desa Kadungsalam.

Puisi Bung Karno dan Tradisi Labuhan di Ngliyep
Di Desa Kedungsalam, kegiatan dipusatkan di Pantai Ngliyep Donomulyo. Di wilayah ini, tidak hanya dikenal dengan keindahan pantai, melainkan juga tersimpan cerita sejarah dan nilai-nilai ritus budaya religi, yang masih dijaga dan dipertahankan masyarakatnya.
“Di Desa Kedungsalam ini sangat dikenal dengan kesakralan budaya tradisinya. Maka, kita patut mengapresiasi, praktik budaya warisan leluhur yang terus dijaga, terlebih generasi muda yang mau konsisten bergiat melestarikannya,” kata Wakil DPRD Kabupaten Malang, Sudarman.
Terlebih, menurutnya sudah banyak ritus budaya Jawa yang mulai dihilangkan dalam praktik kehidupan sosial masyarakat akhir-akhir ini. Ia mencontohkan tradisi ujub dan selamatan atau ruwatan.
“Aktivitas pelestarian budaya warisan leluhur memang harus diberi ruang dan difasilitasi, agar tetap hidup dan tidak lenyap terpinggirkan,” tandas anggota DPRD Fraksi Partai Golkar ini, saat sarasehan di pendopo Pantai Ngliyep.
Kepala Desa Kedungsalam Misdi menyampaikan, di pantai Ngliyep juga dipercaya pernah disinggahi sang Proklamator Bung Karno. Saat berada di Pantai Ngliyep kala itu, konon Bung Karno menulis dan membacakan puisi berjudul ‘Aku Melihat Indonesia.’ Puisi ini juga ditemukan dalam buku ‘Bung Karno dan Pemuda’
“Bung Karno diyakini pernah berpuisi Aku Melihat Indonesia saat di Pantai Ngliyep ini. Tetapi, belum diketahui teks asli puisinya dan tahun berapa dibuat. Ini kami harapkan bisa digali,” kata Misdi.
Saat sarasehan sejarah budaya ‘Menjelajah Histori dan Harmoni yang digelar tim Jejak Kearifan Amartya Bhumi ini, juga diikuti sesepuh atau juru kunci tempat wisata Sendang Kamulyan Kedungsalam Mbah Bejo. Juga, pegiat dan pelaku upacara labuhan atau larung sesaji pantai Ngliyep dari Kujang Mas Tirto Samudro.

Sejumlah Desa Menyimpan Cerita Sejarah
Konon, di wilayah kecamatan Donomulyo merupakan tanah pejuang, yang menyimpan cerita sejarah perjuangan di masa silam. Di balik kekayaan alam yang dimiliki, di daerah ini pernah menjadi medan sejarah perjuangan yang mungkin belum banyak diketahui orang.
Tercatat, sejumlah nama desa di wilayah Kecamatan Donomulyo menyimpan berbagai cerita yang bermula dari situasi kehidupan sosial kala itu.
Wilayah yang menyimpan sejarah ini salah satunya ada di Desa Mentaraman. Di kawasan desa ini disebutkan bermula nama berkumpulnya orang-orang dari Mataram yang mencari daerah aman dan penghidupan setelah situasi perang.
Terdapat pula Desa Sumberoto, yang terdapat Monumen Polri. Monumen bersejarah ini dibangun sebagai pengingat sejarah korban kebiadaban pemberontakan PKI terhadap empat anggota kepolisian tahun 1948.
Empat anggota polisi tersebut tercatat Inspektur Polisi Lilik Puguh, Agen Polisi A. Jusuf, Agen Polisi Musiatun, dan Agen Polisi Pramu.
Monumen Polri dibangun tahun 1971, dan diresmikan Kepala Daerah Kepolisian X Jawa Timur, Brigjen Polisi S. Samsoeri Mertojoso. (*/Ra Indrata)




