MALANG POST – Tak sekadar mengejar prestasi akademik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menantang mahasiswanya untuk turun tangan menjadi solusi konkret di tengah masyarakat.
Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026, UMM membidik lahirnya inovasi sosial yang berdampak nyata, sekaligus menawarkan rekognisi akademik istimewa bagi mahasiswa yang terlibat.
Keseriusan ini terlihat dalam gelaran Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) PPK Ormawa 2026 yang berlangsung di Auditorium GKB V UMM, Rabu (7/1/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan perwakilan organisasi mahasiswa (Ormawa) dari berbagai tingkatan, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Otonom (LSO), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., dalam sambutannya menegaskan bahwa peran mahasiswa saat ini harus melampaui sekadar diskusi di ruang kelas.
Menurutnya, mahasiswa UMM harus mampu menerjemahkan gagasan intelektual menjadi jawaban atas permasalahan riil masyarakat.
“PPK Ormawa adalah instrumen strategis untuk mewujudkan Kampus Berdampak. Di sini, mahasiswa tidak hanya mengasah kepemimpinan dan kolaborasi lintas disiplin, tetapi juga terlibat langsung memberdayakan masyarakat,” tegas Subeki.
Ia optimistis, dengan ekosistem kemahasiswaan UMM yang telah mapan dan konsisten meraih peringkat nasional, mahasiswa Kampus Putih memiliki modal kuat untuk berinovasi dan menjaga reputasi institusi di kancah nasional.

Sementara itu, Kepala bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM sekaligus Ketua Penyelenggara, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si,. IPM,. ASEAN Eng., menjelaskan.
Bahwa Bimtek ini bertujuan menyamakan persepsi dan strategi agar proposal yang diajukan benar-benar berkualitas. Ary menekankan daya tarik utama program ini bukan hanya pada pendanaan, melainkan pengakuan akademik yang prestisius.
“Bagi tim yang berhasil lolos pendanaan hingga tahap Abdidaya, UMM memberikan rekognisi berupa konversi SKS, KKN, bahkan hingga pembebasan tugas akhir atau skripsi. Ini adalah bukti bahwa pengabdian diakui setara dengan kerja akademik,” jelas Ary.
Untuk tahun 2026, UMM memasang target ambisius: meloloskan sekitar 30 proposal pendanaan dan mengantarkan 10 hingga 15 tim menuju ajang Abdidaya.
Ary juga mendorong integrasi teknologi dalam setiap program pengabdian, mencontohkan kesuksesan HMPS Agribisnis UMM sebelumnya yang menciptakan alat berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk pembasmi hama sebuah inovasi yang telah dipatenkan.
“Segera lakukan konsolidasi internal. Susun program yang berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar keinginan.”
“Dengan begitu, kita bisa melahirkan pengabdian berkelanjutan yang memperkuat jati diri UMM sebagai Kampus Berdampak,” pungkasnya.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




