TURUN SIGNIFIKAN: Hotel di Kota Batu mengalami penurunan okupansi 20-30 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun 2024. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Penurunan kunjungan wisatawan ke Kota Batu sepanjang 2025 tak hanya memukul sektor taman rekreasi. Industri perhotelan pun ikut merasakan dampaknya. Tingkat hunian kamar hotel tercatat menurun cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi menyebut, sepanjang 2025 rata-rata okupansi hotel turun sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan capaian tahun 2024. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan melemahnya daya beli masyarakat.
“Menginap di hotel bagi sebagian besar masyarakat bukan kebutuhan pokok. Itu masuk kebutuhan sekunder bahkan tersier. Kecuali memang ada tugas atau keperluan tertentu,” ujar Sujud, Jumat (9/1/2026).
Ia menjelaskan, struktur pasar wisata Kota Batu hingga kini masih didominasi wisatawan dari kalangan menengah ke bawah. Sementara segmen menengah ke atas jumlahnya relatif terbatas. Situasi itu membuat industri perhotelan sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi.
Dampak penurunan daya beli tak hanya terasa pada tingkat hunian, tetapi juga pada lama tinggal wisatawan. Pola kunjungan pun berubah cukup drastis.
“Dulu rata-rata tamu menginap dua malam. Sekarang banyak yang hanya satu malam. Bahkan tidak sedikit yang tidak menginap sama sekali. Datang pagi, sore langsung pulang,” kata Sujud.
Perubahan perilaku wisatawan tersebut berimbas langsung pada pendapatan hotel. Secara rata-rata, revenue atau pendapatan kotor hotel di Kota Batu turun hingga 30 persen sepanjang 2025.
Padahal, di sisi lain, beban operasional hotel tidak sepenuhnya bisa ditekan. Sujud menegaskan bahwa industri perhotelan memiliki biaya tetap (fixed cost) yang cukup besar, terutama untuk sumber daya manusia.
“Di hotel itu ada fixed cost dan variable cost. Karyawan masuk fixed cost. Gaji tidak bisa naik turun mengikuti okupansi,” jelasnya.
Kondisi itu memaksa pelaku usaha melakukan berbagai langkah efisiensi agar tetap bertahan. Konsekuensinya, beban kerja karyawan meningkat dan dituntut untuk lebih multitasking. Meski begitu, Sujud menegaskan efisiensi dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
“Hotel harus survive. Tantangannya bagaimana tetap efisien tanpa mengorbankan kualitas layanan,” tegasnya.
Ke depan, tantangan industri perhotelan di Kota Batu diperkirakan belum akan mereda. Sujud menyinggung adanya penurunan alokasi APBN dan APBD pada 2026 yang berpotensi berdampak langsung pada sektor pariwisata.
“Kalau belanja pemerintah turun, dampaknya ke semua sektor. Hotel dan pariwisata pasti ikut terdampak,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pelaku usaha tidak boleh menyerah. Kreativitas dan inovasi dinilai menjadi kunci agar Kota Batu tetap mampu bersaing sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.
“Tahun ini memang berat. Tapi kita tidak boleh berhenti. Harus tetap kreatif agar wisatawan tetap datang ke Kota Batu,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




