(Dari kiri) Chief representative Office di Jakarta ANJO Tetsuya, Prof. Agustin, Ketua NEDO Jepang Dr. Eng. Kishimoto Kikuo, Konsultan NEDO Jakarta Arman Munaf. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Prof. Agustin Krisna Wardani, STP., M.Si., Ph.D., meraih grant perdana dari Jepang melalui skema Research and Development Program for Promoting Innovative Energy and Environmental Technologies Through International Collaboration (RDIC).
Skema ini didanai oleh New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dan menjadikan UB menjadi satu-satunya Universitas di Indonesia yang pertama kali lolos pendanaan. Selain sebagai peneliti utama, Prof. Agustin juga menjabat sebagai Ketua Pusat Inovasi Biosains Universitas Brawijaya, yang selama ini berperan sebagai penggerak pengembangan riset bioteknologi dan bioekonomi di UB.
Grant ini diperoleh melalui kolaborasi riset internasional bersama perusahaan bioteknologi Setsuro Tech Inc. dan Tokushima University, dua mitra strategis dari Jepang yang memiliki keunggulan dalam rekayasa mikroorganisme berbasis teknologi CRISPR/Cas serta pengembangan proses bioindustri.
Prof. Agustin menjelaskan bahwa ketertarikannya mengembangkan inovasi bioetanol generasi kedua berangkat dari potensi strategis Indonesia yang sangat besar.
“Alasan utama saya menekuni riset bioetanol generasi kedua adalah ketersediaan biomassa yang melimpah, khususnya biomassa lignoselulosa dari limbah pertanian dan residu agroindustri yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih bernilai tambah rendah,” ungkapnya.
Riset yang dikembangkan berfokus pada pengembangan bioetanol generasi kedua berbasis biomassa selulosik dari limbah industri kelapa sawit.
Bioetanol generasi kedua dinilai memiliki peran penting dalam pengembangan bioekonomi modern karena menggunakan bahan baku non-pangan dan mendukung sistem energi terbarukan yang berkelanjutan. Menurut Prof. Agustin, pendekatan bioteknologi modern menjadi kunci utama dalam riset ini.
“Melalui rekayasa mikroba berbasis genome editing, optimasi enzim lignoselulolitik, serta integrasi proses fermentasi yang efisien, riset ini diarahkan untuk menghasilkan bioetanol yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Secara konseptual, bioetanol generasi kedua dalam kerangka bioteknologi dan bioekonomi berfokus pada pemanfaatan biomassa lignoselulosa dan limbah agroindustri sebagai bahan baku energi terbarukan.
Riset ini mengintegrasikan pengembangan mikroorganisme fermentatif unggul, enzim lignoselulolitik yang efektif, serta optimasi proses biokonversi agar gula kompleks hasil pretreatment biomassa dapat dikonversi menjadi bioetanol secara maksimal.
Inovasi tersebut dirancang untuk mengatasi keterbatasan bioetanol generasi pertama yang masih bersaing dengan pangan, sekaligus menjawab persoalan limbah dan emisi karbon melalui pendekatan bioekonomi sirkular.
“Dengan mengubah biomassa bernilai rendah menjadi produk energi bernilai tinggi, riset ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membuka peluang hilirisasi bioteknologi yang aplikatif dan berdaya saing, sesuai dengan potensi sumber daya hayati Indonesia,” tambah Prof. Agustin.
Ia juga menegaskan bahwa riset ini relevan dengan kebijakan nasional terkait peningkatan bauran energi baru dan terbarukan serta penurunan emisi gas rumah kaca. Dari sisi institusional, Prof. Agustin menilai riset ini memberikan dampak strategis bagi Universitas Brawijaya.
“Riset bioetanol generasi kedua ini berpotensi memperkuat posisi UB sebagai pusat unggulan riset bioteknologi dan bioekonomi berbasis sumber daya hayati lokal yang berorientasi pada keberlanjutan,” ujarnya.
Luaran riset yang ditargetkan meliputi publikasi ilmiah bereputasi internasional, paten dan paten sederhana, hingga pengembangan prototipe dan teknologi siap hilirisasi yang meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) UB.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan industri agro-energi, pemerintah, serta mitra internasional akan memperluas jejaring riset strategis UB dan memperkuat rekam jejak institusi dalam riset terapan yang berdampak nyata.
“Secara lebih luas, riset ini berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang bioteknologi industri, khususnya inovasi mikroba, enzim, dan proses biokonversi lignoselulosa, serta menjadi model riset bioekonomi sirkular yang relevan,” katanya.
Keberhasilan perolehan grant NEDO ini juga tidak terlepas dari dukungan kelembagaan Universitas Brawijaya. Prof. Agustin menyampaikan bahwa UB menyediakan infrastruktur riset bioteknologi yang memadai, seperti Laboratorium Riset Terpadu (LRT), Laboratorium Bioteknologi, dan laboratorium pendukung lainnya yang kondusif untuk pengembangan teknologi berbasis biomassa.
Selain itu, UB secara konsisten mendorong kolaborasi nasional dan internasional, kemitraan dengan industri, serta mendukung tata kelola riset, pendampingan administrasi dan legal, serta penguatan kapasitas peneliti.
“Dukungan kelembagaan tersebut berkontribusi besar atas lolosnya proposal kami dalam mendapatkan pendanaan dari NEDO melalui skema RDIC,” ujarnya.
Sebagai Ketua Pusat Inovasi Biosains UB, Prof. Agustin berharap Universitas Brawijaya dapat semakin memantapkan perannya sebagai research university yang diakui di tingkat global.
“UB memiliki modal yang sangat kuat, mulai dari sumber daya manusia, kekayaan biodiversitas tropis sebagai objek riset, hingga jejaring kolaborasi internasional. Ke depan, UB diharapkan tidak hanya menjadi pengikut arus riset global, tetapi mampu menjadi knowledge leader yang menghasilkan inovasi berdampak,” tuturnya.
Ia menambahkan, melalui penguatan riset bioteknologi dan bioekonomi berbasis sumber daya hayati tropis, Universitas Brawijaya diharapkan dapat bertransformasi menjadi pusat unggulan riset global yang kontribusinya nyata bagi Indonesia sekaligus relevan bagi dunia, terutama dalam isu strategis ketahanan energi, keberlanjutan lingkungan dan transisi energi berkelanjutan. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




