MALANG POST – Kata pedagang Pasar Kasin, perubahan paling terasa setelah pasar berstatus Standar NasionaI Indonesia (SNI) adalah dari sisi kebersihan, keamanan dan kenyamanan aktivitas jual beli.
Kondisi Pasar Kasin sekarang, jauh lebih tertata dibanding sebelum sertifikasi didapat. Sekalipun dari tingkat keramaian pasar, belum pulih sepenuhnya. Karena kondisi ekonomi saat ini tidak menentu.
“Ke depan kami berharap pembinaan dari Diskopindag terus dilakukan, agar kualitas pasar SNI dipertahankan dan tidak berhenti hanya pada sertifikasi,” kata Imam Samsuri, Koordinator Pedagang Pasar Kasin, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Kamis (8/1/2025).
Imam juga menceritakan proses menuju SNI, yang awalnya tidak mudah. Banyak pedagang menolak zonasi dan enggan pindah lapak, karena sudah nyaman di tempat lama.
Bahkan proses pengaturan zonasi, jelasnya, memakan waktu sekitar dua bulan. Mulai dari komunikasi halus, sampai dengan cara tegas. Akhirnya pedagang bisa menerima dan sekarang hasilnya bisa dirasakan.
Diskopindag Kota Malang sendiri, menargetkan penambahan satu pasar rakyat berstandar SNI di tahun ini. Kandidat terkuat adalah Pasar Bunul. Karena dinilai paling siap dibanding pasar lain yang sebelumnya diusulkan. Seperti Pasar Klojen dan Sawojajar.
“Pemilihan Pasar Bunul didasarkan pada kesiapan dari berbagai aspek. Mulai dari legalitas lahan, zonasi pedagang hingga pengelolaan pasar.”
“Program SNI tidak bisa berjalan sendiri. Butuh sinergi, komitmen dan kerja keras semua pihak,” jelas Kepala Bidang Perdagangan Diskopindag Kota Malang, Luh Putu Eka Wilantari.
Sementara dari total 26 pasar rakyat di Kota Malang, saat ini sudah ada dua pasar yang mengantongi sertifikasi SNI. Yakni Pasar Oro-oro Dowo dan Pasar Kasin.
Secara regional, masih katanya, capaian Kota Malang juga terbilang baik. Di Jawa Timur baru ada tujuh pasar ber-SNI hingga 2024.
Kalangan akademi juga menilai, jika pasar rakyat mampu meraih sertifikasi SNI, diyakini mampu mendongkrak daya saing pasar tradisional.
“Seperti Pasar Oro-oro Dowo, yang kini bisa naik kelas menjadi pasar wisata dan menarik minat pengunjung lebih luas, termasuk dari kalangan wisatawan,” sebut Dosen Pendidikan Ekonomi Universitas Kanjuruhan Malang, Dr. Walipah S.Pd., M.Pd.
Menurutnya, sertifikasi SNI membuat pasar lebih bersih, aman dan nyaman. Sehingga mampu membangun kepercayaan konsumen.
Namun dia menekankan, pasar SNI harus diintegrasikan dengan teknologi. Seperti pembayaran non-tunai, sebagai bagian dari peningkatan layanan.
Selain itu, pasar rakyat ber-SNI mendorong perputaran ekonomi lokal karena melibatkan banyak pihak. Mulai dari petani, pemasok, pedagang hingga konsumen.
Walipah menyebut, pasar SNI juga bisa menjadi penyeimbang pasar modern, asalkan pengelolaannya semakin profesional dan terbuka. (Faricha Umami/Ra Indrata)




