MALANG POST – Pemkot Batu bergerak cepat merespons luapan Sungai Kali Paron yang sempat merendam wilayah hilir, khususnya Dusun Beru, Desa Bumiaji. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu langsung melakukan pemetaan kawasan hulu sungai sebagai langkah awal penanganan jangka panjang.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Wali Kota Batu, Nurochman. Salah satu fokus utama yang dilakukan DPUPR adalah pengambilan foto udara untuk memotret kondisi alur sungai secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Selain itu juga dilakukan normalisasi Kali Paron.
Kepala DPUPR Kota Batu, Alfi Nurhidayat menjelaskan, bahwa pemetaan udara dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab utama luapan air yang terjadi beberapa waktu lalu. Dari hasil pemotretan awal, ditemukan adanya sumbatan material dalam jumlah cukup besar di sepanjang alur Sungai Kali Paron.
“Sesuai arahan Bapak Wali Kota, kami melakukan pemetaan dari udara untuk melihat kondisi aliran Sungai Kali Paron secara menyeluruh. Dari hasil awal, luapan air dipicu oleh sumbatan material yang terbawa arus dari hulu,” ujar Alfi, Kamis (8/1/2025).
Material tersebut tidak hanya berupa batang dan gelondongan kayu berukuran besar, tetapi juga ranting, dahan, hingga campuran kerikil, pasir, lumpur dan sampah pertanian. Seluruh material itu terbawa arus deras saat hujan intensitas tinggi di kawasan hulu, lalu menumpuk dan menyumbat sejumlah saluran pengendali banjir.
“Kami menemukan banyak material yang menyumbat pintu air, saluran sodetan dan bypass channel. Padahal, saluran-saluran tersebut selama ini berfungsi untuk mengendalikan debit air agar tidak meluap ke permukiman,” jelasnya.

BAHU MEMBAHU: Petugas BPBD Kota Batu bersama personel gabungan dan masyarakat saat bergotong royong membersihkan sisa material banjir luapan berupa lumpur beberapa waktu lalu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Tak hanya berhenti pada identifikasi sumbatan, DPUPR juga menelusuri kemungkinan adanya perubahan tata guna lahan di kawasan hulu sungai. Pemetaan udara ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh terkait aktivitas pertanian maupun potensi alih fungsi lahan, yang berdampak pada meningkatnya limpasan air dan sampah organik ke badan sungai.
“Pemetaan ini penting untuk mengetahui apakah ada pengolahan lahan di hulu yang kurang memperhatikan konservasi. Sampah pertanian yang masuk ke sungai saat hujan deras bisa menjadi salah satu faktor penyebab sumbatan,” terang Alfi.
Proses pemetaan udara dilakukan selama dua hari, sejak Minggu hingga Senin. Seluruh hasilnya akan segera dirangkum dan dilaporkan kepada Wali Kota Batu sebagai bahan evaluasi dan dasar penentuan kebijakan lanjutan.
“Hasil pemetaan ini akan kami sampaikan kepada Bapak Wali Kota. Prinsipnya, penanganan banjir tidak bisa hanya di hilir. Hulu sungai juga harus tertata dengan baik. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” imbuhnya.
Sebelumnya, Wali Kota Batu Nurochman menginstruksikan DPUPR untuk segera melakukan pengambilan foto udara pascaluapan Sungai Kali Paron. Data visual tersebut akan dijadikan dasar perencanaan penataan sungai dan pengendalian banjir secara terpadu, dari hulu hingga hilir.
“Saya minta Dinas PUPR segera memetakan kondisi sungai dan kanal banjir yang sudah ada melalui foto udara. Dari situ, kita bisa menyusun langkah intervensi yang tepat, termasuk opsi penambahan kanal atau sodetan untuk memecah debit air saat hujan lebat,” kata Cak Nur.
Dengan pemetaan ini, Pemkot Batu berharap penanganan banjir tidak lagi bersifat reaktif, melainkan berbasis data dan berorientasi jangka panjang, sehingga risiko luapan sungai dapat ditekan secara signifikan di masa mendatang. (Ananto Wibowo)




