MALANG POST – Dalam rangkaian Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) pada Dies Natalis ke-63 Universitas Brawijaya (UB), Direktorat Inovasi dan Pengembangan (DIKST) bersama Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka meluncurkan sejumlah inovasi, yaitu dua jamu herbal berbasis kajian ilmiah, BEATRIXLIM dan MAGHERB serta parfum Majamatara hasil riset interdisipliner UB.
Peluncuran dilakukan di Gedung Samantha Krida pada Senin (5/1/2026). Inovasi BEATRIXLIM dan MAGHERB serta parfum Majamatara menjadi wujud nyata komitmen UB dalam mendorong pemanfaatan hasil riset untuk manfaat langsung bagi masyarakat. Menurut Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng., Ketua Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka UB, momentum Dies Natalis ke-63 dimanfaatkan untuk menunjukkan kesiapan hasil riset UB menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Ia menegaskan bahwa hilirisasi kali ini tidak sekadar jamu tradisional, melainkan produk berbasis kajian ilmiah yang terstandar, terukur, dan dikembangkan melalui proses penelitian dari hulu hingga hilir.
“Dengan kemajuan bioinformatika, senyawa bioaktif dalam tanaman dapat dipetakan mulai dari target biologis hingga jalur kerjanya. Melalui riset in vitro, in vivo, dan in silico, mekanisme kerja herbal dapat dipahami secara lebih jelas dan terukur,” ujar Prof. Sasmito.
Ia menambahkan bahwa BEATRIXLIM dan MAGHERB membuktikan kekayaan herbal Indonesia dapat diangkat menjadi solusi kesehatan modern yang aman dan berbasis sains, sebagai bagian dari komitmen UB menjadikan herbal nasional sebagai solusi kesehatan kredibel, modern, dan kompetitif.

Produk Jamu BEATRIXLIM dan MAGHERB sedang membagikan produk sampel kepada pengunjung. (Foto: Humas UB for Malang Post)
Selaku Sekretaris Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka UB, Dinia Rizqi Dwijayanti, S.Si., M.Si., D.Sc., menegaskan bahwa setiap produk diluncurkan telah melalui proses penelitian yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ia menekankan bahwa hilirisasi jamu dilakukan melalui kerja sama industri.
BEATRIXLIM dan MAGHERB dikembangkan dan diproduksi melalui kerjasama dengan PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk, Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk memastikan hasil riset kampus bisa diproduksi sesuai standar industri dan siap dimanfaatkan masyarakat luas.
Dinia menjelaskan bahwa BEATRIXLIM diformulasikan untuk membantu pengendalian kondisi lemah tubuh, sedangkan MAGHERB dikembangkan untuk meringankan gangguan lambung atau maag. “Ini adalah langkah nyata hilirisasi yang menjembatani riset kampus menjadi inovasi kesehatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.
Selain jamu, UB memperkenalkan parfum Majamatara, hasil riset interdisipliner yang mentransformasikan narasi budaya menjadi inovasi produk presisi. Parfum ini menggabungkan pendekatan sains, teknologi, dan nilai budaya sebagai identitas khas UB.
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa peluncuran produk inovatif ini mencerminkan semangat keilmuan UB yang berorientasi pada kebermanfaatan. “Ilmu pengetahuan memiliki tugas mulia yaitu mewujudkan gagasan menjadi manfaat nyata,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa parfum Majamatara menunjukkan bagaimana riset kampus mampu mengolah nilai budaya menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing global, mencerminkan semangat Brawijaya yang memadukan budaya dengan kecerdasan untuk bersaing di tingkat internasional.
Dengan peluncuran inovasi jamu dan parfum pada Dies Natalis ke-63, UB menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan konsisten mendorong hilirisasi riset melalui kolaborasi dengan industri. Tujuan utamanya adalah mendukung kesehatan, inovasi, dan kemandirian bangsa. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




