MALANG POST – Kota Batu kembali diuji alam sepanjang 2025. Dalam kurun satu tahun, tercatat 209 peristiwa bencana alam terjadi di wilayah kota wisata tersebut. Angka itu melonjak dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatat 122 kejadian.
Sesuai karakter geografisnya yang didominasi perbukitan, tanah longsor masih menjadi bencana paling dominan. Sepanjang 2025, terjadi 127 peristiwa longsor, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024 yang mencatat 56 kejadian. Lereng-lereng curam dengan kontur tanah miring menjadi titik paling rentan ketika hujan turun deras dan berkepanjangan.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko menjelaskan, setelah longsor, bencana terbanyak berikutnya adalah cuaca ekstrem atau angin kencang dengan 46 kejadian. Jumlah itu juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 28 kejadian.
“Selanjutnya disusul banjir sebanyak 25 kejadian, kebakaran bangunan 10 peristiwa, serta kebakaran hutan dan lahan satu kejadian,” papar Suwoko, Selasa (6/1/2026).
Dari sisi sebaran wilayah, Kecamatan Bumiaji menjadi kawasan paling sering dilanda bencana dengan total 99 kejadian. Disusul Kecamatan Batu dengan 78 kejadian, serta Kecamatan Junrejo sebanyak 32 kejadian.
Suwoko menegaskan, kondisi geografis Kecamatan Bumiaji menjadi faktor utama tingginya kejadian bencana. Wilayah ini berada di kawasan perbukitan dengan kontur tanah miring dan struktur tanah yang mudah bergerak saat jenuh air.
“Sejak awal November, intensitas hujan melonjak cukup tajam. Dalam beberapa kejadian, material tanah dan batu sempat menutup akses warga. Di sejumlah titik juga muncul retakan tanah yang menjadi alarm alami bagi warga di kawasan lereng,” jelasnya.
Rentetan bencana tersebut berdampak langsung pada ratusan warga. BPBD mencatat satu orang mengalami luka, 281 warga terdampak dan 24 orang terpaksa mengungsi. Meski demikian, Suwoko memastikan tidak ada korban jiwa.
“Alhamdulillah, tidak ada korban meninggal dunia dari seluruh kejadian bencana sepanjang 2025,” ujarnya.

PEMBERSIHAN: Tim BPBD Kota Batu bersama petugas gabungan saat melakukan proses pembersihan material tanah longsor, sepanjang tahun 2025 kemarin Kota Batu dilanda 209 bencana. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kerusakan fisik pun tak terelakkan. Tercatat 24 rumah rusak ringan, 16 rumah rusak sedang dan 19 rumah rusak berat. Selain itu, 19 rumah terendam banjir. Dampak sosial ekonomi juga cukup terasa, dengan satu hektare sawah terdampak, 0,175 hektare lahan rusak, serta sembilan kios ikut terdampak.
Di sektor pelayanan dasar, bencana menyebabkan lima fasilitas pendidikan mengalami kerusakan. Sementara pada prasarana vital, tercatat empat jaringan air bersih rusak, 11 jaringan listrik dan lampu penerangan terganggu, lima jaringan telekomunikasi terdampak, 0,003 kilometer jalan rusak, serta satu jembatan mengalami kerusakan.
Menghadapi curah hujan yang masih tinggi hingga beberapa waktu ke depan, BPBD terus mengintensifkan mitigasi bencana berbasis masyarakat. Mulai dari pelatihan relawan, pemetaan daerah rawan, hingga pemasangan sistem peringatan dini terus digencarkan di desa-desa kawasan lereng.
“Kami minta warga tetap waspada. Jika muncul retakan tanah, pohon mulai miring, atau air keruh mengalir deras dari lereng, segera laporkan,” tegas Suwoko.
Sebelumnya, Wali Kota Batu, Nurochman menyatakan, pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan dari sisi struktural maupun nonstruktural. Sepanjang tahun lalu, Pemkot Batu melakukan revitalisasi saluran air menggunakan box culvert, pemetaan ulang zona rawan bencana, serta susur sungai di 94 titik.
Susur sungai tersebut mencakup sejumlah wilayah rawan, seperti Sumberbrantas, Pusung Lading, Glagah Wangi, hingga Krecek. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi potensi luapan air dan sedimentasi sungai saat hujan ekstrem.
Tak hanya fokus pada infrastruktur, Pemkot juga menekankan kesiapan mental dan kapasitas warga melalui pelatihan relawan, simulasi tanggap darurat, serta program sekolah aman bencana.
“Penanganan bencana harus bergeser dari reaktif menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kolaborasi adalah kunci,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Indeks Risiko Bencana Kota Batu tercatat menurun dari 81,0 pada 2023 menjadi 75,21 pada 2024. Namun, dengan curah hujan yang masih tinggi, Pemkot Batu tetap mengingatkan masyarakat, khususnya warga di Kecamatan Bumiaji, untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Kita tidak bisa menghentikan bencana. Tapi kita bisa meminimalkan dampaknya,” pungkas Cak Nur. (Ananto Wibowo)




