MALANG POST – Kalangan akademisi penilai, kebijakan work from mall (WFM) perlu dikaji lebih dalam. Karena sekalipun berpotensi menggerakkan roda ekonomi, namun tidak bisa diterapkan secara terburu-buru.
Hal itu ditegaskan, Kepala LPPM dan Guru Besar Manajemen Universitas Merdeka Malang, Prof. Dr. Boge Triatmanto, MM., saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk. Yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Senin (5/1/2025).
Menurutnya, kebijakan itu perlu dikaji lebih mendalam agar tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu dan justru memarginalkan lapisan masyarakat lain.
“Jika WFM hanya menjadi imbauan masih bisa diterima. Namun jika diwajibkan sebagai kebijakan, maka perlu pertimbangan serius,” kata Prof Boge.
Justru pihaknya menyarankan, konsep work from anywhere (WFA) dengan tempat yang bebas dipilih sesuai kenyamanan dan menunjang produktivitas.
Namun jika WFM terbukti bisa meningkatkan kinerja dan kesejahteraan secara umum, tambahnya, maka bisa dilanjutkan.
Sementara itu, Mall Director Malang Town Square (Matos), Fifi Trisjanti, menyambut positif tren work from mall (WFM), yang dinilai mampu membawa pergerakan pengunjung dan peluang ekonomi baru.
Menurutnya, bekerja sambil santai di pusat perbelanjaan bukanlah hal baru. Karena sebelum pandemi pun banyak orang sudah melakukannya. Terutama di kafe dan restoran di dalam mall.
“WFM cukup relevan bagi pebisnis yang tidak memiliki kantor tetap. Mall bisa menjadi tempat yang efisien, karena memungkinkan pertemuan dengan banyak klien dalam satu lokasi.”
“Selain menghemat waktu dan tenaga, aktivitas itu juga berdampak positif pada aktivitas bisnis di dalam mall,” kata Fifi.
Lebih lanjut Fifi menyebut, mall menawarkan konsep one stop solution dengan beragam fasilitas, diiringi dengan keamanan dan kenyamanan yang bagus.
Meski saat ini Matos belum memiliki co-working space khusus, peluang tersebut tetap terbuka jika ada minat investor.
Dia berharap, tren WFM bisa membantu pemulihan ekonomi mall pascapandemi. (Faricha Umami/Ra Indrata)




