MALANG POST – Suara drum dari suporter menggema di Stadion Gajayana, Kota Malang, Senin (5/1/2025) sore. Walikota Malang, Wahyu Hidayat, Wawali Ali Muthohirin dan para kepala perangkat daerah dan anggota dewan, serta para tokoh bola dan para tokoh masyarakat, duduk berderet di balkon stadion.
Persis saat stadion ini menjadi tempat pertandingan liga-liga sebelumnya. Seperti diketahui, sudah cukup lama stadion legend di Kota Malang ini sepi dari hiruk pikuk liga. Arema FC yang berada di kata tertinggi liga pilih menjadikan Stadion Kanjuruhan sebagai home base-nya.
Tinggal Persema yang sekarang berlaga di Liga 4 yang memanfaatkan Stadion tertua di Kota Malang ini. Kini Gajayana cukup bagus, setelah digunakan untuk pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jatim 2025 lalu.
Walikota Malang, Wahyu Hidayat, setelah berdialog dengan Disporapar, KONI dan para tokoh bola Kota Malang, akhirnya sepakat berupaya untuk membangkitkan kembali Persema Malang dan Stadion Gajayana. “Babak 32 besar Grup AA ini, Kota Malang jadi tuan rumah. Dan ini menjadi start kami untuk menggairahkan Stadion Gajayana dan membangkitkan kembali Persema,” ujar Wahyu Hidayat.
Wahyu lewat Disporapar, KONI, Askot PSSI, dan para tokoh sepakbola, dan insan-insan bola, bertekad membawa Persema bisa naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka juga siap melakukan pembinaan usia dini melalui turnamen-turnamen.

Sementara itu, laga Persema Malang melawan Perseta Tulungagung pada babak 32 besar Grup AA Liga 4 Jatim 2025/2026 di Stadion Gajayana, Kota Malang, berakhir ricuh.
Keributan terjadi usai Perseta mampu mencetak gol pada menit 90+4 memanfaatkan kesalahan penjaga gawang Persema Malang saat hendak menangkap bola. Bola itu gagal ditangkap hingga akhirnya mengenai pemain Perseta yang berdiri bebas.
Tanpa ada pengawalan, pemain Perseta mampu menanduk bola dan masuk ke gawang. Gol itu menjadi pemicu awal keributan yang terjadi di Stadion Gajayana pada sore itu.
Para pemain Persema melayangkan protes kepada wasit Samsul Effendi yang memimpin pertandingan. Karena kiper diganggu dan asisten wasit mengangkat bendera tanda pelanggaran.
Official kedua tim pun yang sebelumnya berada di bangku cadangan turut berlarian ke tengah lapangan. Keributan memaksa panitia pelaksana (Panpel) pertandingan turut melerai official tim dari kedua kesebelasan.
Setelah berlangsung cukup alot dan debat antar kedua kapten tim, wasit pun kembali melanjutkan pertandingan. Pertandingan terhenti sekitar 30 menit, hingga akhirnya kembali dilanjutkan.
Saat dilanjutkan, wasit memutuskan untuk menganulir gol dari Perseta. Pertandingan pun kembali dilanjutkan di sisa-sisa menit waktu yang tersedia. Hingga wasit meniup peluit akhir pertandingan, skor 0-0 berakhir untuk kedua tim.
Kerasnya laga ini membuat wasit sampai mengeluarkan 11 kartu kuning dan 1 kartu merah. Sebanyak 5 kartu kuning dan 1 kartu merah untuk Persema dan 6 kartu kuning bagi Perseta. Atas hasil ini, baik Persema dan Perseta mengoleksi 1 poin.
Sementara di pertandingan lain, Persedikab Kediri mampu meraih kemenangan atas Hizbul Wathan dengan skor 4-1.
Pelatih Persema Firman Basuki mengaku bersyukur atas hasil yang diraih timnya saat ini. Namun ia sangat menyayangkan kepemimpinan wasit yang dinilai tidak tegas.
“Sepakbola kalau nggak seri, menang, atau kalah, tapi tetap yang saya sayangkan di sini adalah wasit. Kepemimpinan yang kurang tegas, jelas, dan pada saat ngasih pelanggaran itu membuat suasananya seperti ini (ricuh, red),” kata Firman Basuki usai pertandingan.
Mantan pemain Arema dan Persema ini mengaku bahwa timnya terbentuk hanya dalam jangka waktu dua pekan. Hal itu yang dianggap memengaruhi tim secara permainan.
“Dengan persiapan yang minim, tetap kita syukuri. Semangatnya luar biasa, apa pun hasilnya. Kita berterima kasih apalagi pemain yang lebih muda. Ke depannya agar lebih baik, tetap kita akan support,” ungkap Firman. (Eka Nurcahyo)




