MALANG POST – Universitas Brawijaya (UB) kembali menggerakkan hati nurani kampusnya lewat program Relawan Peduli Sumatera Tahap 2. Fokusnya adalah membantu penanganan dampak banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025 yang didanai Kemendikti Saintek, sebagai respons cepat universitas terhadap bencana alam di wilayah tersebut.
Pemberangkatan relawan tahap kedua dilakukan pada Desember lalu dan dipimpin langsung oleh Dr. dr. Ariani, MKes, SpA(K) dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UB. Tahap ini melanjutkan layanan tahap sebelumnya dengan penekanan pada penguatan layanan kesehatan dan pemulihan psikososial bagi warga terdampak.
“Program ini adalah bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025 yang didanai Kemendikti Saintek, sebagai respons multidisipliner UB terhadap bencana di Kabupaten Agam,” ujar Dr. Ariani.
Ia menambahkan bahwa tujuan program ini adalah mengatasi masalah medis dan psikis yang dihadapi masyarakat melalui penguatan layanan kesehatan dan pemulihan suasana batin warga.
Selama Tahap 2, tim Relawan Peduli Sumatera UB melakukan layanan medis dan psikososial di berbagai fasilitas kesehatan dan posko yang tersebar di Kecamatan Matur, Malalak, Palembayan, Labuan Basuang, Lubuk Basung, Maninjau, serta Jorong terdampak seperti Limo Badak, Bantiang Selatan, Salempaung, Balai Satu, Hulu Banda, dan Tam-Taman. Mereka juga melibatkan sekolah dan rumah warga sebagai lokasi pengungsian.
Kegiatan yang dilakukan beragam: pemeriksaan kesehatan umum dan spesialis, layanan penyakit dalam, kesehatan anak, kebidanan, kesehatan gigi dan bedah mulut, layanan IGD, rawat luka, home visit, serta pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan bayi. Tim juga menemukan beberapa kasus suspek campak pada anak, penyakit kronis yang tidak terkontrol, infeksi saluran pernapasan akut, serta masalah gizi pada anak yang memerlukan tindak lanjut.

Dokter Esther dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya sedang memeriksa gigi anak. (Foto: Istimewa)
Tak hanya layanan medis, UB juga menyediakan layanan psikososial dan trauma healing. Program ini melibatkan skrining kesehatan mental, aktivitas bermain dan mendongeng bagi anak-anak, pendampingan psikologis, serta pemberian terapi dan obat-obatan sesuai kebutuhan. Edukasi kesehatan, kebersihan, dan pencegahan penyakit pascabencana juga menjadi bagian dari edukasi yang diberikan kepada masyarakat terdampak.
Untuk memastikan kelancaran kegiatan, DRPM UB membantu pendanaan program, penyediaan obat-obatan esensial, serta pengadaan alat kesehatan penting seperti enam unit kursi roda, nebulizer, suction, tenda lipat, dan bahan habis pakai medis. Dr. Ariani menambahkan bahwa dua unit mobil Hilux double gardan beserta empat pengemudi turut disiapkan untuk menunjang mobilitas tim di medan yang sulit.
“Kami membawa dua mobil operasional lengkap dengan pengemudi untuk menunjang kegiatan di Kabupaten Agam,” jelasnya.
Semua kegiatan dilaksanakan secara terkoordinasi dengan posko, pemerintah daerah, Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, BNPB, TNI, serta fasilitas kesehatan setempat. Tim UB juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait penguatan sistem pendataan dan alur koordinasi penanganan kesehatan bencana.
Dr. Ariani menegaskan harapannya bahwa program ini dapat terus memberi kontribusi nyata dalam penanganan korban bencana. “Kami berharap Universitas Brawijaya bisa berkontribusi nyata dalam membantu penanganan korban banjir dan longsor di Kabupaten Agam, serta memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” tuturnya.
Relawan Peduli Sumatera Tahap 2 menunjukkan bagaimana UB tidak sekadar hadir sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai mitra nyata bagi kesehatan, kesejahteraan, dan pemulihan psikososial masyarakat pascabencana. Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, langkah ini memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




