MALANG POST – Lonjakan kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 ikut membawa konsekuensi lingkungan bagi Kota Batu. Salah satunya peningkatan timbulan sampah harian. Namun, di tengah padatnya arus pelancong, kondisi tersebut masih terbilang terkendali.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu mencatat, volume sampah selama periode Nataru meningkat sekitar 10–12 ton per hari dibanding hari normal. Jika biasanya timbulan sampah harian berada di kisaran 120 ton, selama libur panjang angkanya naik menjadi sekitar 130–135 ton per hari.
Meski mengalami kenaikan, angka tersebut masih jauh di bawah proyeksi awal DLH. Sebelumnya, potensi lonjakan sampah diperkirakan bisa menembus 20 ton per hari. “Secara umum masih aman. Kenaikannya hanya sekitar 10 persen dari kondisi normal,” kata Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni, Minggu (4/1/2026).
Dian menjelaskan, peningkatan volume sampah tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah kota. Lonjakan paling signifikan justru terkonsentrasi di ruas jalan protokol dan kawasan strategis yang berdekatan langsung dengan destinasi wisata. Aktivitas wisatawan yang tinggi di titik-titik tersebut menjadi pemicu utama bertambahnya timbulan sampah.
Relatif terkendalinya sampah selama Nataru, lanjut Dian, tak lepas dari langkah preventif yang ditempuh Pemkot Batu. Salah satunya melalui penerbitan Surat Edaran Wali Kota Batu Nomor 658.1/3702/35.79.410/2025 tentang Penanganan Sampah Nataru. Edaran tersebut menekankan penerapan prinsip minim sampah, khususnya di sektor pariwisata.
“Pelaku usaha wisata kami imbau tidak menggunakan dekorasi berbahan plastik sekali pakai. Sebisa mungkin diganti dengan material yang dapat digunakan ulang,” ujarnya.

PILAH SAMPAH: Petugas kebersihan saat melakukan pemilahan sampah di salah satu TPS3R yang ada di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Selain itu, pengelola destinasi juga diwajibkan melakukan pemilahan sampah secara mandiri, terutama memisahkan sisa makanan, sampah kemasan plastik, dan residu.
Menurut Dian, pemilahan sejak dari sumber baik tingkat keluarga maupun pelaku usaha menjadi kunci efektivitas pengolahan sampah di hilir. Tanpa pemilahan, beban fasilitas pengolahan akan meningkat dan berpotensi memicu penumpukan.
Imbauan serupa juga diarahkan kepada wisatawan. DLH mendorong pengunjung untuk membawa perlengkapan ramah lingkungan seperti botol minum isi ulang, alat makan pribadi, hingga sedotan nonplastik.
“Edukasi ke wisatawan sama pentingnya dengan pengawasan ke pelaku usaha,” imbuhnya.
Dari sisi operasional, DLH memastikan tidak ada kendala berarti selama periode Nataru. Seluruh timbulan sampah dapat ditangani dengan skema one day process, tanpa menyisakan penumpukan dari hari ke hari. Optimalisasi fasilitas pengolahan menjadi kunci utama.
DLH memaksimalkan pengoperasian insinerator dan big composter di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung. Selain itu, Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, and Recycle (TPS3R) yang tersebar di sejumlah wilayah juga dioptimalkan agar sampah dapat diolah secara menyeluruh.
Dian memprediksi volume sampah akan kembali melandai seiring berakhirnya masa libur panjang, masuknya arus balik wisatawan, serta dimulainya hari kerja efektif pada pekan depan. “Biasanya setelah itu kondisi kembali normal,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




