KAWASAN EDUKASI: Plt Kadis LH Kabupaten Malang, ketika menunjukkan maket TPA Paras yang disiapkan menjadi TPA edukasi. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menunjukkan optimisme yang tinggi, dalam meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan. Terutama di sektor persampahan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan pengelolaan sampah tersebut, sejumlah terobosan telah dilakukan. Mulai dari pengembangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi wisata edukasi, hingga pemanfaatan teknologi pengolahan sampah, berbasis ekonomi sirkular.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman, menyebut, salah satu TPA yang menjadi wisata edukasi adalah TPA Talangagung di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen.
Bahkan TPA Talangagung, selama ini menjadi rujukan banyak daerah di Indonesia, ketika ingin mempelajari sistem pengelolaan sampah secara terpadu.
“Saat ini pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu, juga kami lakukan di TPA Paras,
Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo,” tuturnya mengutip dari PeweiMalang, Minggu (4/1/2025).
Di TPA Paras, yang beberapa waktu lalu dikunjungi Bupati Malang, HM Sanusi, diterapkan metode landfill mining, sebagai salah satu solusi modern dalam pengelolaan sampah.
Melalui metode ini, timbunan sampah lama di TPA digali kembali untuk dilakukan pemilahan, pengolahan dan pemanfaatan ulang. Seperti bahan bakar alternatif (Refuse Derived Fuel atau RDF) atau material lain.
Kondisi tersebut, sebut Avi -panggilan akrab Plt Kepala DLH- menjadikan optimisme kian membuncah. Karena dinas yang dipimpinnya, senantiasa berkomitmen untuk meningkatkan kinerja.

ALAT MODERN: Bupati Malang didampingi Sekda dan Plt Kadis LH, ketika menyaksikan pengelolaan sampah dengan metode landfill mining di TPA Paras. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
Apalagi dalam perkembangannya, TPA Wisata Edukasi Talangagung, sudah menjadi rujukan banyak pihak, untuk belajar terkait penanganan sampah.
Sedangkan di TPA Paras, telah dibangun berbagai fasilitas pengelolaan sampah. Termasuk mesin Refuse Derived Fuel (RDF).
Produk RDF tersebut kini telah dipasarkan ke PT Semen Indonesia Group, melalui Solusi Bangun Indonesia, sebagai bentuk pemanfaatan sampah menjadi energi alternatif.
Sekalipun untuk mencapai semua itu, Avi mengakui butuh anggaran yang tidak kecil.
“Tidak hanya dibutuhkan anggaran saja, tapi juga perlu kolaborasi lintas sektor, agar program-program DLH menjadi berkelanjutan.”
“Untuk mewujudkan upaya-upaya tersebut, kami juga perlu dukungan masyarakat Kabupaten Malang, melalui Program Bersih Indonesia,” ujarnya.
Karena itulah, pihaknya kini menekankan pentingnya untuk menjadikan penghargaan lingkungan sebagai instrumen perubahan perilaku, bukan sekadar capaian seremonial.
Pihaknya juga terus berkomitmen, penghargaan yang didapat DLH Kabupaten Malang sebagai instrumen perubahan perilaku, mendorong keberlanjutan program setelah penilaian selesai dan mengintegrasikan capaian lingkungan ke dalam perencanaan pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, tambahnya, DLH Kabupaten Malang sangat terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai pihak. Mulai dari komunitas, akademisi, dunia usaha, hingga media.
Avi menyebut, pengelolaan lingkungan hidup harus memerlukan kerja sama dengan berbagai lintas sektor.
“Kami mengarahkan kolaborasi pada inovasi pengelolaan lingkungan dari komunitas dan masyarakat, riset terapan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait penanaman pohon di lahan bekas tambang, penguatan pembiayaan melalui CSR sektor usaha, hingga penyediaan bibit tanaman untuk penghijauan TPA,” tandas Djulfikar. (*/Ra Indrata)




