MALANG POST – Terdapat tiga kelompok rentan, yang harus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit superflu. Karena istilah superflu, sebenarnya merupakan peringatan pada gejala influenza yang lebih lama dan menganggu aktivitas sehari-hari.
Pernyataan itu disampaikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Aisiyah Malang, dr. Bagus Aulia Mahdi, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (3/1/2025).
Kata dr. Mahdi, perbedaan utama superflu dengan flu biasa, terletak pada durasi yang lebih panjang untuk sembuh.
“Kalau untuk gejala yang dirasakan, seperti suara parau, nyeri menelan dan batuk kering berkepanjangan,” jelasnya.
Sedangkan tiga kelompok rentan harus lebih mewaspadai Superflu. Pertama anak-anak yang sistem imunnya masih dalam tahap berkembang, lansia yang sistem imunnya sudah rendah dan kelompok komorbid.
Sementara itu, Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Ahmad Luthfi menyampaikan, kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di Malang Raya akhir-akhir ini, menjadi kondisi yang normal terjadi saat musim hujan.
“Wilayah Malang Raya saat ini, sudah masuk dan sedang berada dalam posisi musim hujan, sejak Oktober 2025,” jelasnya. “Sementara cuaca ekstrem lebih sering terjadi selama Desember 2025.”
Selain itu, BMKG juga rutin memantau potensi jumlah uap air di atmosfer, yang dipengaruhi sejumlah faktor seperti bibit siklon tropis di selatan Bali dan Jawa.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan, karena cuaca ekstrem bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir. (Anisa Afisunani/Ra Indrata)




