Walikota Malang, Wahyu Hidayat, saat sidak proyek pembangunan area parkir Kayutangan jelang Nataru. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – Pembangunan area parkir Kayutangan disoal. Tidak hanya anggota DPRD, tetapi juga Walikota Malang, Wahyu Hidayat.
Yang didorong bukan hanya tinggi bangunan, tetapi juga kualitasnya. Tinggi bangunan tampak rendah, sehingga dikhawatirkan minibus yang akan parkir bisa terkendala.
“Berapa ini tingginya?” tanya Walikota Wahyu saat sidak. Teknisi proyek menegaskan bahwa ketinggiannya 240 cm.
Saat Walikota Wahyu melakukan sidak sebelum Nataru dulu itu, juga diketahui bahwa pelaksanaan proyek itu molor dari target. Meski begitu, rekanan sanggup bayar denda sanksi sesuai aturan yang ada.
Anggota dewan menilai, sanksi denda itu sangat kecil. Sampai pekerjaan rampung, total denda mungkin Rp 43 jutaan.
Walikota Wahyu makin kecewa, saat sidak kedua proyek parkir Kayutangan jelang tahun baru, ditemukan atap bocor hingga air ngecembeng (tergenang). “Saya sudah minta untuk diperbaiki. Karena masih dalam masa perawatan,” ujar Walikota Wahyu Hidayat usai melepas bantuan bagi duafa dari Malang Tahes Club (MTC) di Balai Kota Malang, Jumat (2/1/2026).
Menurut Wahyu, pembangunan area parkir Kayutangan itu masih perlu perbaikan lagi. Meski begitu, area parkir itu akan mampu membuat arus lalu lintas (lalin) di kawasan Kajoetangan Heritage akan semakin lancar.
Wahyu memperkirakan minggu-minggu ini proyek itu akan rampung. “Begitu rampung, parkir di area ini akan digratiskan selama seminggu. Agar masyarakat dan wisatawan luar daerah mengetahui adanya area parkir di kawasan Kayutangan,” papar Wahyu.
Sedang untuk rombungan bus wisatawan, area parkir Kayutangan itu hanya tempat droping. Untuk parkir bus, sementara di Jalan Ade Irma Suryani dan kawsan Stadion Gajayana. “Sementara parkir bus di dua kawasan itu, sebelum nanti akan ada tempat khusus untuk parkir bus,” jelas Wahyu.
Hanya saja yang membuat Kota Malang, khususnya berkurangnya volume kendaraan di Kayutangan, lanjut Wahyu, adalah adanya bus Trans Jatim. Selain masyarakat Kota Malang, wisatawan dari luar daerah, justru senang naik bus Trans Jatim.
“Cukup bayar Rp 5.000 untuk umum dan Rp 2.500 pelajar, mereka bisa berkeliling dari Kota Malang hingga Kota Batu. Mereka senang naik Trans Jatim karena on time,” kata Wahyu.
Demikian juga wisatawan dari luar daerah, begitu turun di Stasiun Kereta Api (KA) Kota Malang, bisa langsung naik Trans Jatim dengan tujuan Kajoetangan Heritage, dan ke destinasi-destinasi wisata lain.
Terkait sorotan Komisi C DPRD tentang target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor parkir yang tak pernah memenuhi target, dan disarankan pemkot melakukan mitigasi titik-titik baru parkir, Wahyu menyatakan siap melakukan sidak.
Seperti diketahui, target parkir di tahun 2025 sekitar Rp 17 miliar, tetapi tak tercapai.(Eka Nurcahyo)




