STRIKER: Dalberto Luan Bello, pemain Arema asal Brasil yang sudah dua musim bersama Singo Edan. (Foto: Cak Taufik/Arema Official)
MALANG POST – Diakui atau tidak, kehadiran Dalberto Luan Belo dalam skuadra Singo Edan, menjadi satu hal yang tak bisa dinisbikan. Sekalipun tim pelatih Arema FC menganggap, meski tanpa striker asal Brasil itu, Arema tetap bisa menjadi tim yang menakutkan.
Faktanya berkata lain. Tiga kali laga tanpa kehadiran striker yang sudah mencetak 10 dari 21 gol Arema hingga pekan ke-15, Arema tidak pernah bisa menang. Hasilnya dua kali imbang dan sekali kalah.
Sayangnya tiga kali Dalberto absen membela Arema, semuanya karena alasan faktor non teknis yang jauh dari urusan sepak bola. Melainkan demi kepentingan keluarga.
Seperti pada dua laga terakhir, saat Arema menjamu Madura United (2-2) dan Persita Tangerang (0-1), Dalberto masih berada di Brasil. Urusan visa istri dan anak balitanya yang belum kelar, menjadikan mantan striker Madura United itu tidak bisa kembali ke Malang.
Akibatnya terlihat jelas saat kalah dari Persita Tangerang. Bagaimana tidak, dari 18 kali tendangan dengan lima kali shots on target, tak satu pun yang bisa dikonversi menjadi gol.
Tanpa Darlberto, Arema FC seperti kehilangan target man. Meski sudah ada Dedik Setiawan, yang diposisikan mengganti keberadaan Dalberto, tetapi hasilnya jauh panggang dari api.
Saat lawan Persita itu, Dedik sebenarnya sempat mencetak satu gol. Lewat heading di menit ke-23 dan menjebol gawang Igor Rodrigues, tapi Wasit Asep Yandis menganulir gol itu, setelah melihat layar VAR.
Percobaan gempuran memanfaatkan kedua sayap, termasuk dengan skema counter attack, sudah sering dilakukan. Namun selalu mental karena penyelesaian akhir yang jelek.
“Kami harus bekerja keras soal keinginan mencetak gol. Itulah yang peru kami perbaiki. Karena tugas pelatih adalah mengatur dan membentuk tim. Saya tidak bisa mencetak gol,” kata Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, pelatih Arema FC.
Karena tugasnya sebagai pelatih adalah melatih tim agar bola bisa sampai ke depan gawang itulah, Marcos selalu meminta penggawa Arema lebih fokus di depan gawang.
Setiap peluang harus diselesaikan menjadi gol ke gawang lawan. Karena pada akhirnya, pemainlah yang harus menentukan keberhasilan dari serangan, hingga mampu mencetak gol.
Padahal saat lawan Persita, Arema sudah diuntungkan keadaan. Laskar Pendekar Cisadane, harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-69, setelah Benyamin Rindorindo, diusir wasit karena melakukan pelanggaran terhadap Dedik Setiawan.
Nyatanya, meski sejak menit tersebut Arema praktis menguasai pertandingan. Bahkan ball possession pada keseluruhan mencapai 66:34 persen, tapi justru Arema kecolongan di menit ke-90.
Akibat keteledoran M Rafli yang bermain-main dengan bola di lapangan tengah, ketika mayoritas pemain Arema berada di daerah pertahanan lawan, hingga berhasil direbut pemain Persita, Rayco Rodrigues. Kemudian menjadi asis bagi Andrejic Aleksa, untuk menjebol gawang Lucas Frigeri.
Lebih tragis lagi, di sepanjang laga Persita hanya punya dua kali shots on target. Tapi salah satunya berhasil dikonversi menjadi gol.
“Menurut saya, kenapa kita kalah karena strategi tidak berjalan dengan baik.”
“Ketika kita memainkan satu pertandingan, kita harus mengontrol laga dan menghindari serangan balik. Karena counter attack itu satu-satunya cara lawan bisa memenangkan pertandingan,” kata pelatih dengan lisensi Pro Conmebol ini.
Pelatih 48 tahun itu juga menyadari, penyebab utama kekalahan Arema atas Persita, karena Arema gagal menghentikan dua serangan balik dan salah satunya berujung gol.
“Itulah sebabnya, kami harus mencetak gol. Saat harus mencetak gol, harus ada perubahan, harus ada tuntutan. Tapi, akhirnya kami kena serangan balik yang berbuah gol,” pungkasnya. (*/Ra Indrata)




