MALANG POST – Desa pesisir Kedungdalem kembali menegaskan komitmennya terhadap ketangguhan komunitas melalui program pelatihan holistik yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Kegiatan yang berlangsung pada 24 September 2025 ini fokus pada dua pilar utama: Pertolongan Psikologis Awal (PFA) dan Manajemen Risiko Usaha Tangguh Bencana.
Dalam sesi pertama, para peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, pemuda, dan kader lingkungan diajarkan teknik PFA. Tujuannya agar warga mampu menjadi penolong pertama bagi korban yang mengalami trauma pada menit-menit awal pasca-bencana.

Fasilitator M. Ainurridho Allaamsyah menekankan bahwa kehadiran empatik sering lebih berarti daripada penjelasan medis yang rumit.
“Sering kali, yang dibutuhkan korban bukan penjelasan panjang, melainkan kehadiran yang menenangkan,” katanya.
Peserta juga diajarkan teknik pernapasan untuk menstabilkan emosi serta komunikasi yang tepat agar kondisi psikologis korban tidak memburuk di lapangan.
Selain aspek mental, program ini menyoroti kesiapan ekonomi warga. BEM UMM memberikan edukasi mengenai keberlanjutan usaha bagi pelaku UMKM setempat dengan strategi business continuity plan dalam skala rumahan.

Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, S.M., M.M., narasumber kegiatan, menjelaskan bahwa banyak usaha kecil gulung tikar bukan hanya karena kerusakan fisik, tetapi juga karena kurangnya perencanaan darurat. Peserta diajak menyusun prioritas pemulihan usaha dan pengelolaan aset agar tetap bertahan pada fase awal pascabencana.
“Selama ini kalau bencana ya pasrah. Ternyata ada langkah-langkah agar usaha tetap bisa jalan,” ujar salah satu peserta yang merasa mendapatkan perspektif baru mengenai manajemen risiko.
Kehadiran program ini diharapkan menjadikan warga Kedungdalem sebagai subjek aktif dan tangguh, bukan sekadar objek dampak. Rencana jangka panjang program ini adalah memperluas pelatihan serupa ke wilayah rawan bencana lain di Probolinggo hingga akhir tahun mendatang.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan tercipta komunitas pesisir yang lebih adaptif dan lebih cepat bangkit menghadapi setiap krisis yang melanda. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




