MALANG POST – Pengelola wisata alam di Malang Raya, memperkuat mitigasi bencana jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Sebagai langkah penting untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem, berupa hujan deras dan angin kencang.
Apalagi di wilayahnya sendiri, sejumlah pohon yang rawan tumbang telah dipotong sebagai langkah antisipasi. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan Perhutani, kepolisian dan Koramil, guna memastikan keamanan pengunjung di kawasan wisata alam.
Penegasan itu disampaikan Manager Klaster Malang PT Perhutani Alam Wisata Risorsis, Imam Basori, saat menjadi narasumber talkshow di program Idjen Talk. Yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Senin (22/12/2025).
“Mitigasi juga dilakukan di area susur sungai Coban Talun bersama BPBD. Koordinasi lintas pihak terus diperkuat, agar pengelola siap menghadapi lonjakan pengunjung maupun kondisi darurat,” tegasnya.
Imam mengakui, cuaca ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi sektor wisata alam di Malang selama libur akhir tahun.
Peningkatan kunjungan di wilayahnya, sudah terjadi pada 20 dan 21 Desember. Tapi jumlah wisatawan belum setinggi tahun sebelumnya.
“Kondisi hujan dan angin kencang, membuat sebagian wisatawan menunda kunjungan ke destinasi berbasis alam.”
“Beberapa pengunjung lebih memilih lokasi wisata yang tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca,” tegasnya.
Untuk mempertahankan minat kunjungan, kata Imam, pelaku wisata mengoptimalkan promosi melalui media sosial dan menghubungi pelanggan dari basis data yang dimiliki. Meski faktor cuaca tetap menjadi penentu utama tingkat kunjungan wisata alam.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disparta Kota Batu, Nova Andriani menambahkan, Disparta Kota Batu juga melakukan hal yang sama. Langkah ini diawali dengan penyebaran surat edaran Menteri Pariwisata dan Gubernur, terkait wisata aman, nyaman dan menyenangkan.
“Kami melakukan dua jenis monitoring. Pertama monitoring lapangan secara langsung. Pengawasan menyasar pelaku usaha pariwisata, untuk memastikan penerapan standar CHSE dan keselamatan kerja atau K3. Termasuk uji petik fasilitas wisata dengan risiko rendah hingga tinggi,” jelasnya.
Monitoring kedua, imbuh Nova, dilakukan terhadap 91 usaha akomodasi dan 44 daya tarik wisata sejak pertengahan Desember hingga akhir tahun.
Langkah ini diharapkan dapat menjamin keamanan wisatawan selama periode libur akhir tahun.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Pariwisata sekaligus Dosen Politeknik Negeri Malang, Dr. Aang Afandi, S.E., M.M., juga membenarkan, kondisi cuaca ekstrem masih menjadi tantangan bagi sektor wisata alam di liburan akhir tahun.
Cuaca ekstrem tersebut, tambahnya, tak bisa dihindari. Sehingga semua pihak dituntut lebih bijak dalam menentukan aktivitas wisata.
“Akhir tahun tetap menjadi momentum masyarakat untuk relaksasi. Salah satunya melalui wisata. Terutama destinasi berbasis alam yang banyak diminati.”
“Namun pilihan wisata harus dibarengi dengan perhatian serius terhadap mitigasi cuaca ekstrem. Tidak hanya sebatas perencanaan, tetapi juga pelaksanaan di lapangan,” katanya.
Aang menegaskan, risiko tidak hanya berada di destinasi wisata. Tapi juga selama perjalanan hingga kembali ke rumah.
Karena itu, wisata aman dan nyaman hanya bisa terwujud melalui kerja sama wisatawan, pengelola atau pemangku wisata dan pemerintah. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




